FARMAKOKINETIKA OBAT SELAMA KEHAMILAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.         Latar Belakang

 

Suatu obat yang diminum per oral akan melalui 3 fase : farmasetik ( disolusi ), farmakokinetik, dan farmakodinamik, agar kerja obat dapat terjadi. Dalam fase farmasetik, obat berubah menjadi larutan sehingga dapat menembus membrane biologis. Jika obat diberikan melalui rute subkutan, intramuscular, intravena, maka tidak terjadi fase farmaseutik.

Fase ke dua, yaitu farmakokinetik, terdiri dari 4 proses ( subfase ) : absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan ekskresi. Dalam fase farmakodinamik, atau fase ke tiga, terjadi respons biologis atau fisiologis.

Kehamilan  merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan selama masa kehamilan. Selama masa kehamilan tersebut wanita sangat rentan terhadap  beberapa penyakit, seperti infeksi saluran kemih. Pada tubuh pediatri terjadi perubahan fisiologis karena terbentuknya unit fetal-plasental maternal. Keadaan ini mempengaruhi farmakokinetika obat baik dari segi absorbsi, distribusi, maupun eliminasinya, sehingga bisa mempengaruhi efek obat.

 

 

 

1.2 TUJUAN

1.      Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengetahuan tentang mekanisme farmakokinetika dalam tubuh.

2.                  Tujuan Khusus

a.       Ibu hamil dapat mengetahui tentang pengaruh obat dalam tubuhnya.

b.       Ibu hamil dapat mengetahui tentang pengaruh obat pada janin dalam kandungan.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1. Pengertian Farmakokinetika

 

Farmakokinetika adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat. Empat proses yang termasuk di dalamnya adalah : absorpsi, distribusi, metabolisme ( biotransformasi ) dan ekskresi ( eliminasi ). Pada masa kehamilan, perubahan fisiologis akan terjadi secara dinamis, hal ini dikarenakan terbentuknya unit fetal-plasental-maternal. Karena perubahan fisiologis inilah maka farmakokinetika obat baik absorpsi, distribusi, metabolisme maupun ekskresi pun ikut berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut antara lain perubahan fungsi saluran cerna, fungsi saluran nafas, dan peningkatan laju filtrasi glomerulus pada ginjal.

Suatu penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan obat dapat melewati sawar plasenta dengan mudah, sehingga janin yang dikandung pun ikut menerima obat.
Serta dapat mengalami perubahan-perubahan seperti :

1.   Kehamilan bisa mengubah absorpsi obat yang diberikan peroral

2. Kehamilan bisa mengubah distribusi obat yang disebabkan karena peningkatan distribusi volume (intravaskuler, interstisial dan di dalam tubuh janin) serta peningkatan cardiac output.

3.  Kehamilan mengubah interaksi obat-reseptor karena timbul dan tumbuhnya reseptor obat yang baru di plasenta dan janin .

4.   Kehamilan dapat mengubah ekskresi obat melalui peningkatan aliran darah ginjal dan

filtrasi glomerulus.

OBAT —> DARAH (PLASMA) —> TEMPAT KERJA —> EFEK

Jika suatu obat digunakan sebagai profilaksis, misalnya pada pencegahan kekambuhan epilepsi, atau pemakaian obat yang responsnya sukar diukur (misalnya, efek antiirtflamasi), kadar obat dalam darah merupakan parameter yang dapat digunakan secara efektif untuk memantau terapi.

Setiap individu mempunyai gambaran farmakokinetik obat yang berbedabeda. Dosis yang sama dari suatu obat bila diberikan pada sekelompok orang dapat menunjukkan gambaran kadar dalam darah yang berbeda-beda dengan intensitas respons yang berlainan pula. Kenyataan hubungan konsentrasi obat dalam darah dengan respons yang dihasilkan tidak banyak bervariasi dibanding dengan hubungan dosis dengan respons.

Dengan menganggap bahwa respons terhadap obat bergantung pada kadar obat dalam darah, kita mengenal 3 macam kadar obat, yaitu kadar efektif minimum, pada kadar di bawahnya tidak jelas adanya efek obat; kadar toksik, pada kadar ini, efek-efek toksik (efek samping yang tidak diinginkan) mulai timbul; dan kadar obat yang terletak di antara kadar efektif minimum dan kadar toksik yang dikenal sebagai jendela terapeutik.

 

Pada pediatri akan terjadi peningkatan jumlah volume cairan tubuh yang berakibat penurunan kadar puncak obat dalam plasma. Kondisi hipoalbuminemia yang terjadi selama kehamilan menyebabkan terjadinya penurunan jumlah protein pengikat (protein binding), sehingga kadar obat bebas yang terdapat dalam darah akan meningkat. Seperti diketahui, obat yang beredar bebas dalam darah adalah obat yang dapat menimbulkan efek terapetik. Oleh karena itu, pemberian obat pada wanita hamil mengandung risiko efek terapetik yang berlebihan, yang kadangkala justru menimbulkan efek toksik baik pada ibu maupun janinnya. Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut di atas pemberian obat pada wanita hamil harus sungguh-sungguh memperhitungkan dosis yang tepat yang didasari oleh pengetahuan tentang kadar obat bebas dalam darah.

Hasil survai epidemiologis menunjukkan bahwa antara sepertiga hingga duapertiga dari seluruh pediatri akan mengkonsumsi setidaknya 1 macam obat selama kehamilan. Obat-obat yang sering digunakan antara lain antimikroba, antiemetik, obat penenang, dan analgesik. Respon ibu dan janin terhadap obat selama kehamilan dipengaruhi oleh dua faktor utama :

1) perubahan absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat dalam tubuh pediatri

2) unit plasental-fetal yang mempengaruhi jumlah obat yang melewati sawar plasenta, persentase obat yang dimetabolisme oleh plasenta, distribusi dan eliminasi obat oleh janin.

 

2.2 Perubahan Farmakokinetik Obat Akibat Perubahan Maternal

a. Absorbsi

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat di saluran cerna antara lain formula obat, komposisi makanan, komposisi kimia, pH cairan usus, waktu pengosongan lambung, motilitas usus, dan aliran darah.

Peningkatan kadar progesteron dalam darah dianggap bertanggungjawab terhadap penurunan motilitas usus, yang memperpanjang waktu pengosongan lambung dan usus hingga 30-50%. Hal ini menjadi bahan pertimbangan yang penting bila dibutuhkan kerja obat yang cepat.

Pada pediatri terjadi penurunan sekresi asam lambung (40% dibandingkan wanita tidak hamil), disertai peningkatan sekresi mucus. Kombinasi kedua hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pH lambung dan kapasitas buffer. Secara klinik hal ini akan mempengaruhi ionisasi asam-basa yang berakibat pada absorbsi obat.

Mual dan muntah yang sering terjadi pada trimester pertama kehamilan dapat pula menyebabkan rendahnya konsentrasi obat dalam plasma. Pada pasien ini dianjurkan untuk mengonsumsi obat pada saat mual dan muntah. Dengan mengubah formula obat berdasarkan perubahan sekresi usus dan mengatur kecepatan serta tempat pelepasan obat, diharapkan absorbsi obat akan menjadi lebih baik.

 

1. Absorbsi saluran cerna
Pada wanita hamil terjadi penurunan sekresi asam lambung (40% dibandingkan wanita tidak hamil), disertai peningkatan sekresi mukus, kombinasi kedua hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pH lambung dan kapasitas buffer. Secara klinik hal ini akan mempengaruhi ionisasi asam-basa yang berakibat pada absorbsinya.
2. Absorbsi paru
Pada kehamilan terjadi peningkatan curah jantung, tidal volume, ventilasi, dan aliran darah paru. Perubahan-perubahan ini mengakibatkan peningkatan absorbsi alveolar, sehingga perlu dipertimbangkan dalam pemberian obat inhalan.

b. Distribusi

Volume distribusi obat akan mengalami perubahan selama kehamilan akibat peningkatan jumlah volume plasma hingga 50%. Peningkatan curah jantung akan mengakibatkan peningkatan aliran darah ginjal sampai 50% pada akhir trimester I, dan peningkatan aliran darah uterus yang mencapai puncaknya pada aterm (36-42 L/jam), dimana 80% akan menuju ke plasenta dan 20% akan menuju ke myometrium.

Peningkatan total jumlah cairan tubuh adalah 8 L, terdiri dari 60% pada plasenta, janin, dan cairan amnion, sementara 40% berasal dari ibu. Akibat peningkatan jumlah volume ini, terjadi penurunan kadar puncak obat (Cmax) dalam plasma.

 

  1. Pengikatan protein
    Sesuai dengan perjalanan kehamilan, volume plasma akan bertambah, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi albumin, sehingga menimbulkan hipoalbuminemia fisiologis yang mengakibatkan kadar obat bebas akan meningkat. Obat-obat yang tidak terikat pada protein pengikat secara farmakologis adalah obat yang aktif, maka pada wanita hamil diperkirakan akan terjadi peningkatan efek obat.

 

d. Eliminasi

1. Eliminasi oleh hepar/hati

Fungsi hepar dalam kehamilan banyak dipengaruhi oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi. Pada beberapa obat tertentu seperti phenytoin, metabolisme  hepar bertambah secepat mungkin akibat rangsangan pada aktivitas enzim mikrosom hepar yang disebabkan oleh hormon progesteron; sebaliknya pada obat-obatan seperti teofilin dan kafein, eliminasi hepar berkurang sebagai akibat sekunder inhibisi kompetitif dari enzim oksidase mikrosom oleh estrogen dan progesteron. Estrogen juga mempunyai efek kolestatik yang mempengaruhi ekskresi obat-obatan seperti rifampisin ke sistem empedu.

2. Eliminasi renal/ginjal

Pada kehamilan terjadi peningkatan aliran plasma renal 25-50%. Obat-obat yang dikeluarkan dalam bentuk utuh dalam urin seperti penisilin, digoksin, dan lithium menunjukkan peningkatan eliminasi dan konsentrasi serum steady state yang lebih rendah.

 

2.3 Mekanisme Transfer Obat melalui Plasenta

Obat-obatan yang diberikan pada pediatri dapat menembus sawar plasenta sama seperti nutrisi yang dibutuhkan janin. Dengan demikian, obat mempunyai potensi untuk menimbulkan efek pada janin. Perbandingan konsentrasi obat dalam plasma ibu dan janin dapat memberi gambaran pemaparan janin terhadap obat-obatan yang diberikan kepada ibunya.

Waddell dan Marlowe (1981) menetapkan bahwa terdapat 3 tipe transfer obat-obatan melalui plasenta sebagai berikut:

1) Tipe I

Obat-obatan yang segera mencapai keseimbangan dalam kompartemen ibu dan janin atau terjadi transfer lengkap dari obat tersebut. Yang dimaksud dengan keseimbangan di sini adalah tercapainya konsentrasi terapetik yang sama secara simultan pada kompartemen ibu dan janin.

2) Tipe II

Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih tinggi daripada konsentrasi dalam plasma ibu (terjadi transfer yang berlebihan). Hal ini terjadi karena transfer pengeluaran obat dari janin berlangsung lebih lambat.

 

 

3) Tipe III

Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih rendah daripada konsentrasi dalam plasma ibu (terjadi transfer yang tidak lengkap).

Faktor-faktor yang mempengaruhi transfer obat melalui plasenta antara lain berat molekul obat, PKa (pH saat 50% obat terionisasi), ikatan antara obat dengan protein plasma. Pada obat dengan berat molekul lebih dari 500D akan terjadi transfer tak lengkap melewati plasenta.

Mekanisme transfer obat melalui plasenta terjadi dengan cara difusi, baik aktif maupun pasif, transport aktif, pinositosis, diskontinuitas membran, dan gradien elektrokimiawi.

Kesimpulan

Kehamilan berkaitan dengan berbagai macam perubahan fisiologis yang mempengaruhi perlakuan tubuh terhadap obat-obatan. Tetapi pada kebanyakan obat hasil akhir dari perubahan-perubahan ini tidak menimbulkan perubahan kadar obat bebas dalam darah, yang berarti tidak terjadi perubahan efek obat.

Pada obat-obatan yang mengalami peningkatan ekskresi, dosis perlu ditingkatkan, sedangkan pada obat-obatan yang terikat pada protein plasma, kondisi hipoalbuminemia yang terjadi berakibat konsentrasi obat bebas menjadi lebih tinggi. Maka pengaturan dosis pada obat-obatan tersebut harus mengacu pada pengukuran kadar obat bebas.

Pemberian obat pada pediatri harus sungguh-sungguh mempertimbangkan kategori obat yang aman digunakan (Kategori A dan B) serta memperhitungkan dosis yang tepat.

 

2.4. Efek Kompartemen Fetal-Plasental
Jika pemberian obat menghasilkan satu kesatuan dosis maupun perbandingan antara kadar obat janin: ibu maka dipakai model kompartemen tunggal. Tetapi jika obat lebih sukar mencapai janin maka dipakai model dua kompartemen di mana rasio konsentrasi janin: ibu akan menjadi lebih rendah pada waktu pemberian obat dibandingkan setelah terjadi distribusi.

 

1. Efek protein pengikat

 

Protein plasma janin mempunyai afinitas yang lebih rendah dibandingkan protein plasma ibu terhadap obat-obatan. Tetapi ada pula obat-obatan yang lebih banyak terikat pada protein pengikat janin seperti salisilat. Obat-obat yang tidak terikat (bebas) adalah yang mampu melewati sawar plasenta.
2.  Keseimbangan asam-basa
Molekul yang larut dalam lemak dan tidak terionisasi menembus membran biologis lebih cepat dibandingkan molekul yang kurang larut dalam lemak dan terionisasi selain itu PH plasma janin sedikit lebih asam dibandingkan ibu. Dengan demikian basa lemah akan lebih mudah melewati sawar plasenta. Tetapi setelah melewati plasenta dan mengadakan kontak dengan darah janin yang relatif lebih asam, molekul-molekul akan lebih terionisasi. Hal ini akan berakibat penurunan konsentrasi obat pada janin dan menghasilkan gradien konsentrasi. Fenomena ini dikenal sebagai ion trapping.

 

 

  1. Eliminasi obat secara feto-placental drug eliminaton

Terdapat bukti-bukti bahwa plasenta manusia dan fetus mampu memetabolisme obat. Semua proses enzimatik, termasuk fase I dan fase II telah ditemukan pada hati bayi sejak 7 sampai 8 minggu pasca pembuahan tetapi proses tersebut belum matang, dan aktivitasnya sangat rendah.

Kemampuan eliminasi yang berkurang dapat menimbulkan efek obat yang lebih panjang dan lebih menyolok pada janin. Sebagian besar eliminasi obat pada janin dengan cara difusi obat kembali ke kompartemen ibu. Tetapi kebanyakan metabolit lebih polar dibandingkan dengan asal-usulnya sehingga kecil kemungkinan mereka akan melewati sawar plasenta, dan berakibat penimbunan metabolit pada jaringan janin. Dengan pertambahan usia kehamilan, makin banyak obat yang diekskresikan ke dalam cairan amnion, hal ini menunjukkan maturasi ginjal janin.
4. Keseimbangan Obat Maternal-Fetal

Jalur utama transfer obat melalui plasenta adalah dengan difusi sederhana. Obat yang bersifat lipofilik dan tidak terionisasi pada pH fisiologis akan lebih mudah berdifusi melalui plasenta. Kecepatan tercapainya keseimbangan obat antara ibu dan janin mempunyai arti yang penting pada keadaan konsentrasi obat pada janin harus dicapai secepat mungkin, seperti pada kasus-kasus aritmia atau infeksi janin intrauterin, karena obat diberikan melalui ibunya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: