Masalah Kematian ibu dan bayi dalam kebidanan komunitas

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur dengan menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan perinatal dalam 100.000 persalinan hidup. Sedangkan tingkat kesejahteraan suatu bangsa ditentukan dengan seberapa jauh gerakan keluarga berencana dapat diterima masyarakat. (Manuaba, 1998)
Angka kematian ibu dan kematian perinatal masih tinggi. Sebenarnya kematian tersebut masih dapat dihindari karena sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama sangat diperlukan, tetapi penyelenggara kesehatan tidak sanggup untuk memberikan pelayanan. Penyebab kematian ibu masih tetap merupakan “trias klasik”, sedangkan sebab kematian perinatal terutama oleh “trias asfiksia”, infeksi, dan trauma persalinan. (Manuaba, 1998)
Kematian dan kesakitan ibu dan perinatal juga berkaitan dengan pertolongan persalinan “dukun” sebanyak 80% dan berbagai faktor sosial budaya dan faktor pelayanan medis. Kematian ibu (maternal) bervariasi antara 5 sampai 800 per 100.000 persalinan, sedangkan kematian perinatal berkisar antara 25 sampai 750 per 100.000 persalinan hidup. (Manuaba, 1998)
Oleh karena angka kematian ibu dan perinatal terbesar terjadi di negara berkembang maka WHO dan UNICEF mencetuskan ide Health for all by the years 2000, dengan harapan setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan pada tahun 2000. Konsep pelaksanaan Health for all by the years 2000 menjadi pelayanan kesehatan utama. Unsur pelayanan kesehatan utama mencakup:
Salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan AKI adalah dengan menempatkan bidan di wilayah Indonesia khususnya di wilayah pedesaan (Depkes RI, 1995). Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu yaitu dengan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer, yang mempunyai tujuan sama yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, kebijaksanaan Departemen Kesehatan adalah mendekatkan pelayanan obstetri dan neonatal (kebidanan dan bayi baru lahir) kepada setiap ibu hamil sesuai dengan pendekatan Making Pregnancy Safer (MPS),yang mempunyai 3 (tiga) pesan kunci :
1.1.1 Semua persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
1.1.2 Semua komplikasi obstetri mendapat pelayanan rujukan yang
adekuat.
1.1.3 Semua perempuan dalam usia reproduksi mendapat akses
pencegahan dan penatalaksanaan kehamilan yang tidak diinginkan
dan aborsi yang tidak aman (Depkes RI, 2001).
Bidan di wilayah pedesaaan diharapkan mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu dengan kehamilan normal, kehamilan dengan komplikasi dan kehamilan resiko tinggi, serta mampu memberikan pertolongan persalinan normal, sehingga dapat mempercepat penurunan AKI (Depkes RI, 2002).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui masalah kematian maternal dan neonatal dalam Kebidanan
komunitas.
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus makalah ini adalah untuk :
1.2.2.1 Memahami masalah tentang kematian maternal dan neonatal.
1.2.2.2 Mengidentifikasi penyebab kematian maternal dan neonatal.
1.2.2.3 Mengidentifikasi pemecahan masalah kematian maternal dan
neonatal.
1.2.2.4 Memahami peran Bidan dalam mata rantai menurunkan angka
kematian dan kesakitan Ibu dan Perinatal di Indonesia.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Maternal dan Neonatal
2.1.1 Kematian Maternal
Kematian maternal menurut batasan dari The Tenth Revision of The International Classification of Diseases (ICD – 10) adalah kematian wanita yang terjadi pada saat kehamilan, atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau penanganannya, tetapi bukan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan.
Kematian maternal adalah kematian dari setiap wanita sewaktu dalam kehamilan, persalinan dan dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan tanpa mempertimbangkan lamanya serta di mana kehamilan tersebut berlangsung (FIGO, 1973).
Terdapat 3 komponen dalam proses kematian ibu. Yang paling dekat dengan kematian dan kesakitan ibu adalah kehamilan, persalinan, atau komplikasinya. Komponen kehamilan, komplikasi, atau kematian secara lengkap dipengaruhi oleh 5 determinan antara, yaitu status kesehatan, status reproduksi, akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan, dan faktor lain yang tidak diketahui
2.1.2 Kematian Perinatal
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian yaitu karena asfiksia, trauma kelahiran, infeksi, prematuritas, kelainan bawaan, dan sebab-sebab lainnya.

Penurunan angka kematian perinatal yang lambat disebabkan oleh kemiskinan, status perempuan yang rendah, gizi buruk, deteksi dan pengobatan yang kurang cukup, kehamilan dini, akses dan kualitas asuhan antenatal, persalinan, dan nifas yang buruk.
2.2 Penyebab Kematian Maternal
Trias utama kematian maternal adalah perdarahan, infeksi, dan eklamsi.
2.2.1 Sebab Obstetrik Langsung
Adalah kematian ibu karena akibat langsung dari penyakit penyulit pada kehamilan, persalinan dan nifas, misalnya karena infeksi, eklamsi, perdarahan, emboli air ketuban, trauma anestesi, trauma operasi, dan sebagainya.
2.2.2 Sebab Obstetrik Tidak Langsung
Adalah kematian ibu akibat penyakit yang timbul selama kehamilan, persalinan dan nifas. Misalnya anemia, penyakit kardio vaskuler, serebro vaskuler, hepatitis infeksiosa, penyakit ginjal, dan sebagainya. Termasuk juga adalah penyakit yang sudah ada dan bertambah berat selama kehamilan.
2.2.3 Sebab Bukan Obstetrik
Adalah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas akibat kejadian-kejadian yang tidak ada hubungannya dengan proses reproduksi dan penangannya. Misalnya karena kecelakaan, kebakaran, tenggelam, bunuh diri, den sebagainya.
2.2.4 Sebab Tidak Jelas
Adalah kematian ibu yang tidak dapat digolongkan pada salah satu yang tersebut di atas.
Dari penyebab-penyebab di atas, dapat pula bagi dalam 2 golongan:
2.2.4.1 Kematian yang dapat dicegah
Disebut juga preventable maternal death avoidable factors, adalah kematian ibu yang seharusnya dapat dicegah seandainya penderita mendapat pertolongan atau datang pada saat yang tepat sehingga dapat ditolong secara profesional dengan fasilitas dan sarana yang cukup.
2.2.4.2 Kematian yang tidak dapat dicegah
Yaitu unpreventable maternal death, adalah kematian ibu yang tidak dapat di hindari walaupun telah dilakukan segala daya upaya yang baik. Misalnya pada nefritis kronis, penyakit jantung berat, dan sebagainya.

2.3 Penyebab Utama Kematian Perinatal
2.3.1 Penyebab langsung :
2.3.1.1 Persalinan premature
Persalinan preterm adalah persalinan dengan berat bayi kurang dari 2500 gram dengan organ – organ vital belum sempurna sehingga mudah terjadi gangguan pernapasan, gangguan pencernaan makanan, mudah terjadi infeksi dengan akibat AKP tinggi.
2.3.1.1 Persalinan terlantar / dukun
Dengan makin meningkatnya pengetahuan dan ekonomi masyarakat, makin menurunkan kejadian “persalinan terlantar”. Persalinan terlantar merupakan persalinan yang disertai komplikasi ibu dan janin dalam bentuk rupture uteri imminen, infeksi intrauterine, asfiksia sampai kematian janin intrauterine, kelelahan ibu menghadapi persalinan (tampak lelah, dehidrasi, ketuban berampur mekoneum [asfiksia janin])
2.3.1.2 Kelainan kongenital
Kelainan kongenital merupakan manifestasi penyimpangan pertumbuhan dan pembentukan organ tubuh. Penyebab kelainan kongenital tidak diketahui dengan pasti, tetapiu dapat di duga karena kelainan kromosom, pengaruh hormanal, lingkungan endometrium yang kurang subur, kelainan metabolisme, pengaruh obat teratogenik, dan inveksi virus (Manuaba, 1998). Akibat kelainan kongenital bayi yang dilahirkan banyak yang tidak dapat bertahan hidup.

2.3.2 Penyebab tidak langsung
2.3.2.1 Anemia dan gizi rendah
2.3.2.2 Factor infeksi
2.3.2.3 Kerja saat hamil tua
2.3.2.4 Grandemultipara/jarak hamil pendek.

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Kematian Maternal
Di Indonesia, faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kematian
maternal antara lain adalah:
2.4.1 Faktor Umum
Masih banyak terjadi perkawinan, kehamilan dan persalinan diluar kurun waktu reproduksi yang sehat, terutama pada usia muda. Resiko kematian pada kelompok umur dbawah 20 tahun dan pada kelompok umur diatas 35 tahun adalah 3x lebih tinggi dari kelompok umur reproduksi sehat (20-34 tahun)

2.4.2 Faktor Paritas
Grandemultipara, yaitu ibu dengan jumlah kehamilan dan persalinan lebih dari 6 kali masih banyak terdapat. Resiko kematian maternal dari golongan ini adalah 8 kali lebih tinggi dari lainnya.

2.4.3 Faktor Perawatan Antenatal
Masih rendahnya kesadaran ibu-ibu hamil untuk memeriksa kandungannya pada sarana kesehatan, sehingga faktor-faktor yang sesungguhnya dapat dicegah atau komplikasi kehamilan yang dapat diperbaiki serta di obati tidak segera dapat ditangani. Seringkali mereka datang setelah keadaannya buruk.

2.4.4 Faktor Penolong
Sekitar 70-80 % persalinan masih ditolong oleh dukun beranak, baru setelah persalinan terlantar dan tidak dapat maju dengan disertai dengan gejala komplikasi yang berat (infeksi, ruptura uteri) kemudian dikirim ke fasilitas kebidanan yang memadai. Bila sudah demikian, apapun yang kita usahakan kadang kala tidak dapat menolong ibu maupun anaknya.

2.4.5 Faktor saran dan Fasilitas
Misalnya sarana dan fasilitas rumah sakit, penyediaan darah dan obat-obatan yang murah dan terjangkau masyarakat, disediakannya fasilitas anastesi, transportasi dan sebagainya.

2.4.6 Faktor Lainnya
Yaitu faktor sosial ekonomi, kepercayaan dan budaya masyarakat, pendidikan dan ketidaktahuan dan sebagainya.

2.4.7 Faktor Sistem Rujukan
Agar pelayanan kebidanan mudah dicapai, pemerintah telah menetapkan seorang ahli kebidanan disetiap ibu kota kabupaten, namun belum seluruh ibu kota kabupaten dapat diisi, oleh karena itu rujukan kasus kebidanan belum sempurna.

2.5 Pemecahan Masalah Kematian Maternal dan Perinatal
Menurut Prawirohardjo hal-hal dibawah ini sangat perlu menjadi perhatian untuk dikembangkan seluas-luasnya dalam membina pelayanan kebidanan yang baik dan bermutu:
2.5.1 Semua ibu hamil harus mendapat kesempatan dan
menggunakan kesempatan untuk menerima pengawasan serta
pertolongan dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
2.5.2 Pelayanan yang diberikan harus bermutu
2.5.3 Walaupun tidak semua persalinan berlangsung dirumah sakit
namun, bila ada komplikasi harus mendapat perawatan segera
di rumah sakit.
2.5.4 Diberikan prioritas bersalin di rumah sakit kepada:
2.5.4.1 Wanita dengan komplikasi obstetrik, seperti panggul
sempit, pre-eklamsi dan eklamsi, kelainan letak,
kehamilan ganda dan sebagainya.
2.5.4.2 Wanita dengan riwayat obstetrik yang jelek, seperti
perdarahan postpartum, kematian janin sebelum lahir,
dan sebagainya pada kehamilan sebelumnya.
2.5.4.3 Wanita hamil dengan penyakit umum, seperti penyakit
jantung, diabetes dan sebagainya.
2.5.4.4 Wanita dengan kehamilan ke 5 atau lebih
2.5.4.5 Wanita dengan umur 35 tahun ke atas
2.5.4.6 Wanita dengan keadaan di rumah yang tidak
memungkinkan persalinan dengan aman.

Adanya statistik yang baik mengenai penduduk, mengenai kelahiran serta kematian maternal menurut umur dan paritas, mengenai kematian perinatal dan mengenai sebab-sebab kematian maternal dan perinatal. Semuanya ini diperlukan untuk terus membina dan menyempurnakan pelayanan kebidanan pada masa yang akan datang.
Selain hal-hal tersebut di atas, keadaan kesehatan baik fisik maupun mental wanita hamil diperbaiki dan ditingkatkan. Ditambah pula dengan kemajuan terus menerus dalam ilmu dan praktek kebidanan, pembatasan jumlah anak sampai 2 atau 3 dan peningkatan taraf kehidupan rakyat pada umumnya

2.6 Peran Bidan Dalam Mata Rantai Menurunkan Angka kematian dan Kesakitan Ibu dan Perinatal di Indonesia.
Bidan sebagai tenaga medis terdepan di tengah masyarakat memegang peranan yang sangat penting untuk dapat member pendidikan masyarakat, sehingga dapat dapat ikut serta menurunkan AKI dan AKP. Untuk dapat menurunkan AKI dan AKP dapat dicanangkan pokok upaya, di antaranya asuhan antenatal intersif, meningkatkan status wanita Indonesia, melaksanakan gerakan keluarga berencana, meningkatkan system rujukan, mendekatkan pelayanan di tengah masyarakat sebagai upaya mengatasi factor keterlambatan.

2.6.1 Meningkatkan Pelaksanaan Asuhan Antenatal
Dengan melakukan asuhan antenatal sebanyak empat kali sudah dianggap cukup (sekali setiap kali pada semester ketiga). Tujuan pemberian asuhan ini adalah :
2.6.1.1 Mempersiapkan kehamilah sehat optimal
2.6.1.2 Mempersiapkan persalinan aman dan bersih
2.6.1.3 Menentukan kehamilan dengan risiko
2.6.1.4 Mempersiapkan kesehatan pascapartus dan laktasi
2.6.1.5 Memberi KIE atau motivasi keluarga berencana
Selain itu dilakukan pemberian vaksinasi tetanus toksoid dan mengarahkan persalinan aman dan bersih. Bila kehamilan berisiko rendah, dapat diatasi secara setempat. Bila kehamilan dicurigai harus dilakukan rujukan ke rumah sakit.
2.6.2 Meningkatkan Status Wanita Indonesia
Peningkatan status wanita dilakukan dengan mempersiapkan perkawinan dan hamil ketika reproduksi sehat optimal, melakukan pemeriksanaan sebelum hamil dan perkawinan, meningkatkan gizi saat hamil, laktasi dengan orientasi empat sehat lima sempurna, mengupayakan agar cukup istirahat terutama hamil tua sehingga mantap menghadapi persalinan. Status wanita juga dapat ditingkatkan dengan mempersiapkan keluarga menghadapi masa tua bahagia dan sejahtera. Anak difasilitasi untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan untuk menghadapi abad ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.
2.6.3 Melaksanakan Gerakan Keluarga Berencana
Dengan gerakan keluarga berencana dapat dipersiapkan hamil sehat optimal umur di atas 20 tahun dan di bawah 35 tahun, menyiapkan jarak kehamilan di atas 2 tahun, mempersiapkan kemungkinan APM pada kasus tertentu, dan mempergunakan metode KB efektif.
Selain itu dilakukan penurunan hamil dengan risiko tinggi sehingga dapat dihindapi komplikasi hamil dan morbiditas serta mortalitas menurun. Perlu juga dilakukan peningkatan hubungan antar keluarga lebih harmonis yang dapat dicapai dengan menerapkan konsep catur warga, sebagai generasi pengganti, meningkatkan poleksosbudhankam keluarga, dan konsep NKKBS dapat terlaksana, khususnya perhatian terhadap anak, sehingga mengurangi pengaruh peer group.
2.6.4 Meningkatkan Sistem Rujukan
Kelambatan sistem rujukan merupakan salah satu kendala tingginya AKI dan AKP. Dengan mempercepat keputusan rujukan dapat mengurangi AKI dan AKP karena diterima di pusat pertolongan dalam keadaan adekuat. Peningkatan sistem rujukan yang tepat merupakan kendala kerena keadaan geografis Indonesia sangat luas dan berpulau. Pemerintah harus siap membantu sistem rujukan karena memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
2.6.5 Mendekatkan Pelayanan di Tengah Masyarakat
Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dapat diberikan dengan mempersiapkan bidan di desa. Bidan di sini sebagai pengganti dukun beranak. Bidan dapat melakukan pertolongan persalinan lege artis dengan polindes, mempercepat proses rujukan kehamilan berisiko tinggi, melaksanakan posyandu setiap bulan, memberi KIE-motivasi (gerakan KB, gizi sehat, imunisasi ibu / bayi-anak.
Setiap kecamatan telah memiliki Puskesmas sebagai realisasi mendekatkan pelayanan medis modern di tengah masyarakat. Puskesmas ini memberi pelayanan POED dan PONED (memberikan oksitosin, plasenta manual, mempersiapkan asfiksia). Selain itu puskesmas membantu pelaksanaan “posyandu” di desa terdekat, melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah, memberi pendidikan dan kerja sama dengan “dukun”, mengoordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit kabupaten secara medis dan ilmu pengetahuan mampu berperan optimal. Kegiatannya membina Puskesmas di tingkat kabupaten, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi dengan empat spesialis pokok (spesialis bedah, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, spesialis obstetri dan ginekologi) yang meliputi POED dan PONED, dapat melakukan bedah seksio sesarea darurat atau berencana dan histerektomo, memberi obat intravenus. Kasus risiko tinggi ditujuk ke rumah sakit provinsi serta menerima kembali perawatan lanjut. Rumah sakit kabupaten juga melakukan koordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit provinsi secara medis dan ilmu pengetahuan sebagai top rujukan provinsi yang membina rumah sakit kabupaten, mampu melakukan semua tindakan medis spesialis, mengoordinasi audit AKI dan AKP, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi. Rumah sakit ini merupakan top rujukan di tingkat provinsi dan tangan kanan koordinasi pelayanan kesehatan melalui kewilayahan kesehatan tingkat provinsi.
Upaya bidan meningkatkan penerimaan Gerakan Keluarga Berencana dalam arti merencanakan jumlah anggota keluarga yang dianggap mampu untuk ditanggung oleh kemampuan sosial ekonomi keluarga, dapat meningkat sumber daya manusia setidaknya dalam bidang pendidikan. Penerimaan keluarga berencana dalam arti Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) diharapkan dapat menurunkan jumlah ibu hamil, atau jika hamil dalam kondisi kesehatan jasmani dan rohani optimal sehingga menurunkan jumlah kematian maternal dan perinatal.
Bidan di tengah masyarakat sangat menentukan upaya untuk memberikan pelayanan bermutu dan menyeluruh yang pada saatnya mengganti peranan “dukun” dalam memberi pertolongan persalinan yang aman dan bersih.
Kunci keberhasilan Indonesia dalam upaya menurunkan angka kematian maternal dan perinatal terletak pada peran bidan di daerah pedesanaan, sebagai narasumber tenaga kesehatan terdepan dalam arti luas sehingga bidan sangat penting diberi pendidikan IpTekDok yang berkelanjutan, sehingga profesionalisme makin dapat ditingkatkan.
Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh bidan dalam ikut serta menurunkan angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan fenomena puncak gunung es, karena tidak ada seorang pun dapat mencatan kematian maternak atau perinatal di tengah jumlah penduduk Indonesia sekitar 215 juta orang. Kemungkinan angka kematian sekitar 330/100.000 persalinan hidup hanya merupakan perkiraan perhitungan contoh di berbagai daerah Indonesia.
Tinggi / rendahnya angka kematian sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat dalam arti makan tinggi pendidikan dan pendapatan akan cenderung untuk makin menerima KB. NKKBS makin tercapai, artinya keluarga cendering ingin mempunyai jumlah anak yang kecil. Jumlah pertumbuhan penduduk dapat diperhitungkan dan dikendalikan. Gugur-kandung hanya merupakan suplemen dalam gerakan keluarga berencana. Pertimbangan keluarga yang cenderung ingin mempunyai anak sedikit adalah agar dapat mempertahankan kesejahteraannya dalam arti poleksosbudhankam keluarga.
Keluarga adalah unit terkecil kehidupan bangsa, negara dan bahkan manusia di atas dunia, sehingga bila keluarga sudah sejahtera dengan sendirinya masalah poleksosbudhankamnas (politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan dan keamanan nasional) akan makin terjamin. Dengan demikian bidan merupakan figur poleksosbudhankamnas di tengah masyarakat dan ikut serta menjamin keutuhan bangsa.
2.6.6 Meningkatkan Sistem Rujukan
Kelambatan sistem rujukan merupakan salah satu kendala tingginya AKI dan AKP. Dengan mempercepat keputusan rujukan dapat mengurangi AKI dan AKP karena diterima di pusat pertolongan dalam keadaan adekuat. Peningkatan sistem rujukan yang tepat merupakan kendala kerena keadaan geografis Indonesia sangat luas dan berpulau. Pemerintah harus siap membantu sistem rujukan karena memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
2.6.7 Mendekatkan Pelayanan di Tengah Masyarakat
Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dapat diberikan dengan mempersiapkan bidan di desa. Bidan di sini sebagai pengganti dukun beranak. Bidan dapat melakukan pertolongan persalinan lege artis dengan polindes, mempercepat proses rujukan kehamilan berisiko tinggi, melaksanakan posyandu setiap bulan, memberi KIE-motivasi (gerakan KB, gizi sehat, imunisasi ibu / bay-anak.
Setiap kecamatan telah memiliki Puskesmas sebagai realisasi mendekatkan pelayanan medis modern di tengah masyarakat. Puskesmas ini memberi pelayanan POED dan PONED (memberikan oksitosin, plasenta manual, mempersiapkan asfiksia). Selain itu puskesmas membantu pelaksanaan “posyandu” di desa terdekat, melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah, memberi pendidikan dan kerja sama dengan “dukun”, mengoordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit kabupaten secara medis dan ilmu pengetahuan mampu berperan optimal. Kegiatannya membina Puskesmas di tingkat kabupaten, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi dengan empat spesialis pokok (spesialis bedah, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, spesialis obstetri dan ginekologi) yang meliputi POED dan PONED, dapat melakukan bedah seksio sesarea darurat atau berencana dan histerektomo, memberi obat intravenus. Kasus risiko tinggi ditujuk ke rumah sakit provinsi serta menerima kembali perawatan lanjut. Rumah sakit kabupaten juga melakukan koordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit provinsi secara medis dan ilmu pengetahuan sebagai top rujukan provinsi yang membina rumah sakit kabupaten, mampu melakukan semua tindakan medis spesialis, mengoordinasi audit AKI dan AKP, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi. Rumah sakit ini merupakan top rujukan di tingkat provinsi dan tangan kanan koordinasi pelayanan kesehatan melalui kewilayahan kesehatan tingkat provinsi.
Upaya bidan meningkatkan penerimaan Gerakan Keluarga Berencana dalam arti merencanakan jumlah anggota keluarga yang dianggap mampu untuk ditanggung oleh kemampuan sosial ekonomi keluarga, dapat meningkat sumber daya manusia setidaknya dalam bidang pendidikan. Penerimaan keluarga berencana dalam arti Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) diharapkan dapat menurunkan jumlah ibu hamil, atau jika hamil dalam kondisi kesehatan jasmani dan rohani optimal sehingga menurunkan jumlah kematian maternal dan perinatal.
Bidan di tengah masyarakat sangat menentukan upaya untuk memberikan pelayanan bermutu dan menyeluruh yang pada saatnya mengganti peranan “dukun” dalam memberi pertolongan persalinan yang aman dan bersih.
Kunci keberhasilan Indonesia dalam upaya menurunkan angka kematian maternal dan perinatal terletak pada peran bidan di daerah pedesanaan, sebagai narasumber tenaga kesehatan terdepan dalam arti luas sehingga bidan sangat penting diberi pendidikan IpTekDok yang berkelanjutan, sehingga profesionalisme makin dapat ditingkatkan.
Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh bidan dalam ikut serta menurunkan angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan fenomena puncak gunung es, karena tidak ada seorang pun dapat mencatan kematian maternak atau perinatal di tengah jumlah penduduk Indonesia sekitar 215 juta orang. Kemungkinan angka kematian sekitar 330/100.000 persalinan hidup hanya merupakan perkiraan perhitungan contoh di berbagai daerah Indonesia.
Tinggi / rendahnya angka kematian sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat dalam arti makan tinggi pendidikan dan pendapatan akan cenderung untuk makin menerima KB. NKKBS makin tercapai, artinya keluarga cendering ingin mempunyai jumlah anak yang kecil. Jumlah pertumbuhan penduduk dapat diperhitungkan dan dikendalikan. Gugur-kandung hanya merupakan suplemen dalam gerakan keluarga berencana. Pertimbangan keluarga yang cenderung ingin mempunyai anak sedikit adalah agar dapat mempertahankan kesejahteraannya dalam arti poleksosbudhankam keluarga.
Keluarga adalah unit terkecil kehidupan bangsa, negara dan bahkan manusia di atas dunia, sehingga bila keluarga sudah sejahtera dengan sendirinya masalah poleksosbudhankamnas (politik, ekonomi, sosial, budaya,ketahanan dan keamanan nasional) akan makin terjamin. Dengan demikian bidan merupakan figur poleksosbudhankamnas di tengah masyarakat dan ikut serta menjamin keutuhan bangsa.

2.7 Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI

2.7.1 Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, melalui
2.7.1.1 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa
penyediaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan
desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu
dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai
pelatihan bagi petugas.
2.7.1.2 Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai
standar, antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED
(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK
(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kualitas) 24 jam.
2.7.1.3 Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan
komplikasi keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah
terjadinya 4 terlalu, pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria.
2.7.1.4 Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan
jalan menjalin kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI,
IDAI, IBI, PPNI), Perinasia, PMI, LSM dan berbagai swasta.
2.7.1.5 Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara
lain dalam bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya,
pencegahan terlambat 1 dan 2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan
keluarga dan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi, partisipasi dalam jaga mutu pelayanan.
2.7.2 Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan mengevaluasi kegiatan (P1 – P2 – P3) sesuai kondisi daerah.
2.7.3 Sosialisasi dan advokasi, melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada kepentingan ibu dan anak.

2.8 Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mencegah Kematian Bayi
2.8.1 Peningkatan kegiatan imunisasi pada bayi.
2.8.2 Peningkatan ASI eksklusif, status gizi, deteksi dini dan pemantauan tumbuh kembang.
2.8.3 Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi.
2.8.4 Program Manajemen Tumbuh kembang Balita sakit dan Manajemen Tumbuh kembang Balita Muda.
2.8.5 Pertolongan persalinan dan penatalaksanaan Bayi Baru lahir dengan tepat.
2.8.6 Diharapkan keluarga memiliki pengetahuan, pemahaman, dan perawatan pasca persalinan sesuai standar kesehatan.
2.8.7 Program Asuh.
2.8.8 Keberadaan Bidan Desa.
2.8.9 Perawatan neonatal dasar meliputi perawatan tali pusat, pencegahan hipotermi dengan metode kanguru, menyusui dini, usaha bernafas spontan, pencegahan infeksi, penanganan neonatal sakit, audit kematian neonatal.

2.9 Partisipasi Bidan Dalam Mencegah Kematian
2.9.1 Menerapkan program ASUH (Awal Sehat Untuk Hidup Sehat) yang memfokuskan kegiatan pada keselamatan dan kesehatan bayi baru lahir (1-7 hari).
2.9.2 Mengintensifkan kegiatan kunjungan rumah 7 hari pertama pasca persalinan berisi pelayanan dan konseling perawatan bayi dan ibu nifas yang bermutu.

2.10 Partisipasi masyarakat dalam mencegah kematian bayi
2.10.1 Menyebarluaskan pengetahuan tentang pentingnya 7 hari pertama pasca persalinan bagi kehidupan bayi selanjutnya.
2.10.2 Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kunjungan rumah 7 hari pertama pasca persalinan oleh Bidan di Desa.
2.10.3 Mencatat dan melaporkan adanya ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi meninggal pada bidan di Desa, agar diperoleh masukan untuk merencanakan tindakan/ kunjungan dan memecahkan sekaligus mengantisipasi masalah kematian bayi.
2.10.4 Mendukung dan mempertahankan keberadaan bidan di desa

Fenomena Kristal Kita

ketika hari u muncul sang mentari,,,menepis seolah tak berujung,,,

ketika itu,, lantunan ayat-ayat suci telah diperdengarkan di seluruh pejuru dunia,,,

Allah yang tak pernah tidur,, menyaksikan segala aktivitas yang beragam,,,

sayup getar yang angin sampaikan menambah hati dan asa semakin maju,,

Entah apa dan mengapa membuat segala yang u lakukan memiliki kesinambungan saat kau hidup di dunia,,

semua akan ada feedback yang diciptakan,,,

berangsur sepi,,sunyi,,,namun sesaat menjadi haru biru,,

Tak menduganya,,,tak mengiranya,,

butir-butir kata,, untaian tasbih,, gerakan sholat menambah hati seakan semakin dekat dengan penguasa jagat,,

ekologi lingkungan yang sempurna,, menyimpan berbagai keunikan yang perlu dipelajari butir demi butir,,

asosiasi dalam suatu epidemiologi tak bisa begitu saja diabaikan,,,

pelangi, hujan, air dan semua yang ada di alam ini menambah kesan kristal yang membumbung indah,,

kita tahu percikan-percikan api yang kadang dibuat oleh manusia itu sendiri seolah menjadi warna dalam jagat raya ini,,

environment sebagai penumpu,, kadang tidak berdiri sempurna,,

host yang memiliki kekuatan sempurna kadang mengalami ketidakseimbangan dan degeneratif,,

agent yang seharusnya dalam jumlah normal,,menjadi sebuah elemen yang menimbulkan gangguan pada suatu sistem..

dan ketika suatu populasi terpapar..sistem kristal menjadi goyah,,bahkan sangat tak bersahabat..

di saat itulah segala fomite,,vektor,,reservoir,,carier menjadi media yang dapat menambah ketidakseimbangannya suatu sistem kristal,,

sungguh ironis,,atau memang takdir,, yang jelas,, itulah yang dikatakan tadi FEEDBACK..

Suatu keadaan yang tak terelakkkan,tak terpungkiri,,

ekosistem yang agak kacau,,, atau,, degenaratif,,..??

tidak ada yang menjawab,,,semua merasa telah menjalankan,,,

manusia hanya bisa berusaha memupuk semangat cinta alam,,,

bersama-sama menjaga keutuhan kristal yang indah itu,,,

🙂🙂 riz,2101

keutamaan membaca surat ar-rahman bagi pelajar

1. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhai nikmat yang dikaruniakan padanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/187).

2. Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jangan tinggalkan membaca surat Ar-Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhannya bersamanya pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia yang paling indah, dan baunya paling harum. Pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapan Allah yang lebih dekat dengan-Nya daripadanya. Pada saat itu Allah berfirman padanya: Siapakah orang yang sering bangun malam bersamamu saat di dunia dan tekun membacamu. Ia menjawab: Ya Rabbi, fulan bin fulan, lalu wajah mereka menjadi putih, dan ia berkata kepada mereka: Berilah syafaat orang-orang yang mencintai kalian, kemudian mereka memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Masuklah kalian ke surga, dan tinggallah di dalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

 

 

FARMAKOKINETIKA OBAT SELAMA KEHAMILAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.         Latar Belakang

 

Suatu obat yang diminum per oral akan melalui 3 fase : farmasetik ( disolusi ), farmakokinetik, dan farmakodinamik, agar kerja obat dapat terjadi. Dalam fase farmasetik, obat berubah menjadi larutan sehingga dapat menembus membrane biologis. Jika obat diberikan melalui rute subkutan, intramuscular, intravena, maka tidak terjadi fase farmaseutik.

Fase ke dua, yaitu farmakokinetik, terdiri dari 4 proses ( subfase ) : absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi), dan ekskresi. Dalam fase farmakodinamik, atau fase ke tiga, terjadi respons biologis atau fisiologis.

Kehamilan  merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan selama masa kehamilan. Selama masa kehamilan tersebut wanita sangat rentan terhadap  beberapa penyakit, seperti infeksi saluran kemih. Pada tubuh pediatri terjadi perubahan fisiologis karena terbentuknya unit fetal-plasental maternal. Keadaan ini mempengaruhi farmakokinetika obat baik dari segi absorbsi, distribusi, maupun eliminasinya, sehingga bisa mempengaruhi efek obat.

 

 

 

1.2 TUJUAN

1.      Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengetahuan tentang mekanisme farmakokinetika dalam tubuh.

2.                  Tujuan Khusus

a.       Ibu hamil dapat mengetahui tentang pengaruh obat dalam tubuhnya.

b.       Ibu hamil dapat mengetahui tentang pengaruh obat pada janin dalam kandungan.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1. Pengertian Farmakokinetika

 

Farmakokinetika adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat. Empat proses yang termasuk di dalamnya adalah : absorpsi, distribusi, metabolisme ( biotransformasi ) dan ekskresi ( eliminasi ). Pada masa kehamilan, perubahan fisiologis akan terjadi secara dinamis, hal ini dikarenakan terbentuknya unit fetal-plasental-maternal. Karena perubahan fisiologis inilah maka farmakokinetika obat baik absorpsi, distribusi, metabolisme maupun ekskresi pun ikut berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut antara lain perubahan fungsi saluran cerna, fungsi saluran nafas, dan peningkatan laju filtrasi glomerulus pada ginjal.

Suatu penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan obat dapat melewati sawar plasenta dengan mudah, sehingga janin yang dikandung pun ikut menerima obat.
Serta dapat mengalami perubahan-perubahan seperti :

1.   Kehamilan bisa mengubah absorpsi obat yang diberikan peroral

2. Kehamilan bisa mengubah distribusi obat yang disebabkan karena peningkatan distribusi volume (intravaskuler, interstisial dan di dalam tubuh janin) serta peningkatan cardiac output.

3.  Kehamilan mengubah interaksi obat-reseptor karena timbul dan tumbuhnya reseptor obat yang baru di plasenta dan janin .

4.   Kehamilan dapat mengubah ekskresi obat melalui peningkatan aliran darah ginjal dan

filtrasi glomerulus.

OBAT —> DARAH (PLASMA) —> TEMPAT KERJA —> EFEK

Jika suatu obat digunakan sebagai profilaksis, misalnya pada pencegahan kekambuhan epilepsi, atau pemakaian obat yang responsnya sukar diukur (misalnya, efek antiirtflamasi), kadar obat dalam darah merupakan parameter yang dapat digunakan secara efektif untuk memantau terapi.

Setiap individu mempunyai gambaran farmakokinetik obat yang berbedabeda. Dosis yang sama dari suatu obat bila diberikan pada sekelompok orang dapat menunjukkan gambaran kadar dalam darah yang berbeda-beda dengan intensitas respons yang berlainan pula. Kenyataan hubungan konsentrasi obat dalam darah dengan respons yang dihasilkan tidak banyak bervariasi dibanding dengan hubungan dosis dengan respons.

Dengan menganggap bahwa respons terhadap obat bergantung pada kadar obat dalam darah, kita mengenal 3 macam kadar obat, yaitu kadar efektif minimum, pada kadar di bawahnya tidak jelas adanya efek obat; kadar toksik, pada kadar ini, efek-efek toksik (efek samping yang tidak diinginkan) mulai timbul; dan kadar obat yang terletak di antara kadar efektif minimum dan kadar toksik yang dikenal sebagai jendela terapeutik.

 

Pada pediatri akan terjadi peningkatan jumlah volume cairan tubuh yang berakibat penurunan kadar puncak obat dalam plasma. Kondisi hipoalbuminemia yang terjadi selama kehamilan menyebabkan terjadinya penurunan jumlah protein pengikat (protein binding), sehingga kadar obat bebas yang terdapat dalam darah akan meningkat. Seperti diketahui, obat yang beredar bebas dalam darah adalah obat yang dapat menimbulkan efek terapetik. Oleh karena itu, pemberian obat pada wanita hamil mengandung risiko efek terapetik yang berlebihan, yang kadangkala justru menimbulkan efek toksik baik pada ibu maupun janinnya. Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut di atas pemberian obat pada wanita hamil harus sungguh-sungguh memperhitungkan dosis yang tepat yang didasari oleh pengetahuan tentang kadar obat bebas dalam darah.

Hasil survai epidemiologis menunjukkan bahwa antara sepertiga hingga duapertiga dari seluruh pediatri akan mengkonsumsi setidaknya 1 macam obat selama kehamilan. Obat-obat yang sering digunakan antara lain antimikroba, antiemetik, obat penenang, dan analgesik. Respon ibu dan janin terhadap obat selama kehamilan dipengaruhi oleh dua faktor utama :

1) perubahan absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat dalam tubuh pediatri

2) unit plasental-fetal yang mempengaruhi jumlah obat yang melewati sawar plasenta, persentase obat yang dimetabolisme oleh plasenta, distribusi dan eliminasi obat oleh janin.

 

2.2 Perubahan Farmakokinetik Obat Akibat Perubahan Maternal

a. Absorbsi

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat di saluran cerna antara lain formula obat, komposisi makanan, komposisi kimia, pH cairan usus, waktu pengosongan lambung, motilitas usus, dan aliran darah.

Peningkatan kadar progesteron dalam darah dianggap bertanggungjawab terhadap penurunan motilitas usus, yang memperpanjang waktu pengosongan lambung dan usus hingga 30-50%. Hal ini menjadi bahan pertimbangan yang penting bila dibutuhkan kerja obat yang cepat.

Pada pediatri terjadi penurunan sekresi asam lambung (40% dibandingkan wanita tidak hamil), disertai peningkatan sekresi mucus. Kombinasi kedua hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pH lambung dan kapasitas buffer. Secara klinik hal ini akan mempengaruhi ionisasi asam-basa yang berakibat pada absorbsi obat.

Mual dan muntah yang sering terjadi pada trimester pertama kehamilan dapat pula menyebabkan rendahnya konsentrasi obat dalam plasma. Pada pasien ini dianjurkan untuk mengonsumsi obat pada saat mual dan muntah. Dengan mengubah formula obat berdasarkan perubahan sekresi usus dan mengatur kecepatan serta tempat pelepasan obat, diharapkan absorbsi obat akan menjadi lebih baik.

 

1. Absorbsi saluran cerna
Pada wanita hamil terjadi penurunan sekresi asam lambung (40% dibandingkan wanita tidak hamil), disertai peningkatan sekresi mukus, kombinasi kedua hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pH lambung dan kapasitas buffer. Secara klinik hal ini akan mempengaruhi ionisasi asam-basa yang berakibat pada absorbsinya.
2. Absorbsi paru
Pada kehamilan terjadi peningkatan curah jantung, tidal volume, ventilasi, dan aliran darah paru. Perubahan-perubahan ini mengakibatkan peningkatan absorbsi alveolar, sehingga perlu dipertimbangkan dalam pemberian obat inhalan.

b. Distribusi

Volume distribusi obat akan mengalami perubahan selama kehamilan akibat peningkatan jumlah volume plasma hingga 50%. Peningkatan curah jantung akan mengakibatkan peningkatan aliran darah ginjal sampai 50% pada akhir trimester I, dan peningkatan aliran darah uterus yang mencapai puncaknya pada aterm (36-42 L/jam), dimana 80% akan menuju ke plasenta dan 20% akan menuju ke myometrium.

Peningkatan total jumlah cairan tubuh adalah 8 L, terdiri dari 60% pada plasenta, janin, dan cairan amnion, sementara 40% berasal dari ibu. Akibat peningkatan jumlah volume ini, terjadi penurunan kadar puncak obat (Cmax) dalam plasma.

 

  1. Pengikatan protein
    Sesuai dengan perjalanan kehamilan, volume plasma akan bertambah, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi albumin, sehingga menimbulkan hipoalbuminemia fisiologis yang mengakibatkan kadar obat bebas akan meningkat. Obat-obat yang tidak terikat pada protein pengikat secara farmakologis adalah obat yang aktif, maka pada wanita hamil diperkirakan akan terjadi peningkatan efek obat.

 

d. Eliminasi

1. Eliminasi oleh hepar/hati

Fungsi hepar dalam kehamilan banyak dipengaruhi oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi. Pada beberapa obat tertentu seperti phenytoin, metabolisme  hepar bertambah secepat mungkin akibat rangsangan pada aktivitas enzim mikrosom hepar yang disebabkan oleh hormon progesteron; sebaliknya pada obat-obatan seperti teofilin dan kafein, eliminasi hepar berkurang sebagai akibat sekunder inhibisi kompetitif dari enzim oksidase mikrosom oleh estrogen dan progesteron. Estrogen juga mempunyai efek kolestatik yang mempengaruhi ekskresi obat-obatan seperti rifampisin ke sistem empedu.

2. Eliminasi renal/ginjal

Pada kehamilan terjadi peningkatan aliran plasma renal 25-50%. Obat-obat yang dikeluarkan dalam bentuk utuh dalam urin seperti penisilin, digoksin, dan lithium menunjukkan peningkatan eliminasi dan konsentrasi serum steady state yang lebih rendah.

 

2.3 Mekanisme Transfer Obat melalui Plasenta

Obat-obatan yang diberikan pada pediatri dapat menembus sawar plasenta sama seperti nutrisi yang dibutuhkan janin. Dengan demikian, obat mempunyai potensi untuk menimbulkan efek pada janin. Perbandingan konsentrasi obat dalam plasma ibu dan janin dapat memberi gambaran pemaparan janin terhadap obat-obatan yang diberikan kepada ibunya.

Waddell dan Marlowe (1981) menetapkan bahwa terdapat 3 tipe transfer obat-obatan melalui plasenta sebagai berikut:

1) Tipe I

Obat-obatan yang segera mencapai keseimbangan dalam kompartemen ibu dan janin atau terjadi transfer lengkap dari obat tersebut. Yang dimaksud dengan keseimbangan di sini adalah tercapainya konsentrasi terapetik yang sama secara simultan pada kompartemen ibu dan janin.

2) Tipe II

Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih tinggi daripada konsentrasi dalam plasma ibu (terjadi transfer yang berlebihan). Hal ini terjadi karena transfer pengeluaran obat dari janin berlangsung lebih lambat.

 

 

3) Tipe III

Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih rendah daripada konsentrasi dalam plasma ibu (terjadi transfer yang tidak lengkap).

Faktor-faktor yang mempengaruhi transfer obat melalui plasenta antara lain berat molekul obat, PKa (pH saat 50% obat terionisasi), ikatan antara obat dengan protein plasma. Pada obat dengan berat molekul lebih dari 500D akan terjadi transfer tak lengkap melewati plasenta.

Mekanisme transfer obat melalui plasenta terjadi dengan cara difusi, baik aktif maupun pasif, transport aktif, pinositosis, diskontinuitas membran, dan gradien elektrokimiawi.

Kesimpulan

Kehamilan berkaitan dengan berbagai macam perubahan fisiologis yang mempengaruhi perlakuan tubuh terhadap obat-obatan. Tetapi pada kebanyakan obat hasil akhir dari perubahan-perubahan ini tidak menimbulkan perubahan kadar obat bebas dalam darah, yang berarti tidak terjadi perubahan efek obat.

Pada obat-obatan yang mengalami peningkatan ekskresi, dosis perlu ditingkatkan, sedangkan pada obat-obatan yang terikat pada protein plasma, kondisi hipoalbuminemia yang terjadi berakibat konsentrasi obat bebas menjadi lebih tinggi. Maka pengaturan dosis pada obat-obatan tersebut harus mengacu pada pengukuran kadar obat bebas.

Pemberian obat pada pediatri harus sungguh-sungguh mempertimbangkan kategori obat yang aman digunakan (Kategori A dan B) serta memperhitungkan dosis yang tepat.

 

2.4. Efek Kompartemen Fetal-Plasental
Jika pemberian obat menghasilkan satu kesatuan dosis maupun perbandingan antara kadar obat janin: ibu maka dipakai model kompartemen tunggal. Tetapi jika obat lebih sukar mencapai janin maka dipakai model dua kompartemen di mana rasio konsentrasi janin: ibu akan menjadi lebih rendah pada waktu pemberian obat dibandingkan setelah terjadi distribusi.

 

1. Efek protein pengikat

 

Protein plasma janin mempunyai afinitas yang lebih rendah dibandingkan protein plasma ibu terhadap obat-obatan. Tetapi ada pula obat-obatan yang lebih banyak terikat pada protein pengikat janin seperti salisilat. Obat-obat yang tidak terikat (bebas) adalah yang mampu melewati sawar plasenta.
2.  Keseimbangan asam-basa
Molekul yang larut dalam lemak dan tidak terionisasi menembus membran biologis lebih cepat dibandingkan molekul yang kurang larut dalam lemak dan terionisasi selain itu PH plasma janin sedikit lebih asam dibandingkan ibu. Dengan demikian basa lemah akan lebih mudah melewati sawar plasenta. Tetapi setelah melewati plasenta dan mengadakan kontak dengan darah janin yang relatif lebih asam, molekul-molekul akan lebih terionisasi. Hal ini akan berakibat penurunan konsentrasi obat pada janin dan menghasilkan gradien konsentrasi. Fenomena ini dikenal sebagai ion trapping.

 

 

  1. Eliminasi obat secara feto-placental drug eliminaton

Terdapat bukti-bukti bahwa plasenta manusia dan fetus mampu memetabolisme obat. Semua proses enzimatik, termasuk fase I dan fase II telah ditemukan pada hati bayi sejak 7 sampai 8 minggu pasca pembuahan tetapi proses tersebut belum matang, dan aktivitasnya sangat rendah.

Kemampuan eliminasi yang berkurang dapat menimbulkan efek obat yang lebih panjang dan lebih menyolok pada janin. Sebagian besar eliminasi obat pada janin dengan cara difusi obat kembali ke kompartemen ibu. Tetapi kebanyakan metabolit lebih polar dibandingkan dengan asal-usulnya sehingga kecil kemungkinan mereka akan melewati sawar plasenta, dan berakibat penimbunan metabolit pada jaringan janin. Dengan pertambahan usia kehamilan, makin banyak obat yang diekskresikan ke dalam cairan amnion, hal ini menunjukkan maturasi ginjal janin.
4. Keseimbangan Obat Maternal-Fetal

Jalur utama transfer obat melalui plasenta adalah dengan difusi sederhana. Obat yang bersifat lipofilik dan tidak terionisasi pada pH fisiologis akan lebih mudah berdifusi melalui plasenta. Kecepatan tercapainya keseimbangan obat antara ibu dan janin mempunyai arti yang penting pada keadaan konsentrasi obat pada janin harus dicapai secepat mungkin, seperti pada kasus-kasus aritmia atau infeksi janin intrauterin, karena obat diberikan melalui ibunya.

PARTOGRAF

PARTOGRAF

Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinan dan informasi
untuk membuat keputusan klinik. Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:
• Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks
melalui periksa dalam.
• Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan dernikian juga
dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.
• Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik
kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan
laboratorium, membuat keputusan k1inik dan asuhan atau tindakan yang diberikan
dimana semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin
dan bayi baru 1ahir
Jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong persalinan
untuk:

• Mencatat kemajuan persalinan
• Mencatat kondisi ibu dan janinnya
• Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran
• Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini penyulit persalinan
• Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan klinik yang sesuai
dan tepat waktu

Partograf harus digunakan:
• Untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan dan merupakan elemen penting
dari asuhan persalinan. Partograf harus digunakan untuk semua persalinan, baik
normal maupun patologis. Partograf sangat membantu penolong persalinan da1am
memantau, mengeva1uasi dan membuat keputusan klinik, baik persalinan dengan
penyulit maupun yang tidak disertai dengan penyulit.

• Selama persalinan dan kelahiran bayi di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik
bidan swasta, rumah sakit, dll).
• Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan persalinan
kepada ibu dan proses kelahiran bayinya (Spesialis Obstetri, Bidan, Dokter Umum,
Residen dan Mahasiswa Kedokteran).
• Penggunaan partograf secara rutin dapat memastikan bahwa ibu dan bayinya
mendapatkan asuhan yang aman, adekuat dan tepat waktu serta membantu mencegah
terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka

Partograf tidak dibuat pada kasus-kasus :
• Partus prematurus
• Pada saat MRS pembukaan > 9 cm
• Akan dilakukan seksio sesar elektif
• Pada saat MRS akan dilakukan seksio sesar darurat
• Bekas seksio sesar 2 kali
• Bekas seksio sesar klasik
• Kasus preeklampsia dan eklampsia

Pencatatan selama Fase Laten Kala Satu Persalinan
Seperti yang sudah dibahas, kala satu persalinan terdiri dari dua fase, yaitu fase laten dan fase
aktif yang diacu pada pembukaan serviks:
• fase laten: pembukaan serviks kurang dari 4 cm
• fase aktif: pembukaan serviks dari 4 sampai 10 cm

Kala Satu Persalinan
Selama fase laten, semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus dicatat. Hal ini dapat
dicatat secara terpisah, baik di catatan kemajuan persalinan maupun di Kartu Menuju Sehat
(KMS) Ibu Hamil. Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali membuat catatan selama
fase laten persalinan. Semua asuhan dan intevensi juga harus dicatatkan.

Kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat dengan seksama, yaitu:
• Denyut jantung janin: setiap 1/2 jam
• Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap 4 jam
• Nadi: setiap 1/2 jam
• Pembukaan serviks: setiap 4 jam
• Penurunan bagian terbawah janin: setiap 4 jam
• Tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam
• produksi urin, aseton dan protein: setiap 2 sampai 4 jam
Jika ditemui gejala dan tanda penyulit, penilaian kondisi ibu dan bayi harus lebih
sering dilakukan. Lakukan tindakan yang sesuai apabila pada diagnosis disebutkan adanya
penyulit dalam persalinan. Jika frekuensi kontraksi berkurang dalam satu atau dua jam
pertama, nilai ulang kesehatan dan kondisi aktual ibu dan bayinya.
Bila tidak ada tanda-tanda kegawatan atau penyulit, ibu boleh pulang dengan instruksi
untuk kembali jika kontraksinya menjadi teratur, intensitasnya makin kuat dan frekuensinya
meningkat. Apabila asuhan persalinan dilakukan di rumah, penolong persalinan hanya boleh
meninggalkan ibu setelah dipastikan bahwa ibu dan bayinya dalam kondisi baik. Pesankan
pada ibu dan keluarganya untuk menghubungi kembali penolong persalinan jika terjadi
peningkatan frekuensi kontraksi. Rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai jika fase laten
berlangsung lebih dari 8 jam.

Pencatatan Selama Fase Aktif Persalinan
Halaman depan partograf menginstruksikan observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan
menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif
persalinan, yaitu:
Informasi tentang ibu:
1. nama, umur;
2. gravida, para, abortus (keguguran);
3. nomor catatan medikl/nomor puskesmas;
4. tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu penolong
persalinan mulai merawat ibu);
5. waktu pecahnya selaput ketuban.
Kondisi janin:
1. Djj;
2. Warna dan adanya air ketuban;
3. Penyusupan (molase) kepala janin
4. Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin;
5. Garis waspada dan garis bertindak..

Jam dan waktu:
1. Waktu mulainya fase aktif pers’alinan;
2. Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian .
Kontraksi uterus:
1. Frekuensi kontraksi dalam waktu 10 menit
2. Lama kontraksi (dalam detik) .
3. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:
1. Oksitosin;
2. Obat-obatan lailnnya dan cairan IV yang diberikan.

Kondisi ibu:
1. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh;
2. Urin (volume, aseton atau protein).
Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalam kolom yang tersedia di sisi
partograf atau di catatan kemajuan persalinan)
Mencatat Temuan Pada Partograf
A. lnformasi Tentang Ibu
Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat memulai asuhan persalinan.
Waktu kedatangan (tertulis sebagai: jam atau pukul pada partograf) dan perhatikan
kemungkinan ibu datang dalam fase laten. Catat waktu pecahnya selaput ketuban.
B. Kondisi Janin
Bagan atas grafik pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung janin (DJJ), air
ketuban dan penyusupan (kepala janin)
    1. Denyut jantung janin

Nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada tandatanda  gawat janin). Setiap kotak di bagian atas partograf menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi
tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian
hubungkan yang satu dengan titik lainnya dengan garis tegas dan bersambung
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal pada angka 180 dan
100. Sebaiknya, penolong harus waspada bila DJJ mengarah hingga dibawah 120 atau diatas
160. untuk tindakan-tindakan segera yang harus dilakukan jika DJJ melampaui kisaran
normal ini. Catat tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu
dari kedua sisi partograf.

2. Warna dan adanya air ketuban
Nilai air kondisi ketuban setiap kali melakukan periksa dalam dan nilai warna air
ketuban jika selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di bawah
lajur DJJ. Gunakan lambang-lambang berikut ini:
• U : selaput ketuban masih utuh (belum pecah)
• J : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jemih
• M : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
• D : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
• K :selaput ketuban sudah pecah tapi air ketuban tidak mengalir lagi (“kering”)
Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin. Jika terdapat
mekonium, pantau DJJ dengan seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat janin selama
proses persalinan. Jika ada tanda-tanda gawat janin (denyut jantung janin < 100 atau > 180
kali per menit) maka ibu harus segera dirujuk
Tetapi jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang memiliki kemampuan
penatalaksanaan gawat daruratan obstetri dan bayi baru lahir
3. Penyusupan (Molase) Tulang Kepala Janin
Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat
menyesuaikan diri terhadap bagian keras (tulang) panggul ibu. Semakin besar detajat
penyusupan atau tumpang-tindih antar tulang kepala semakin menunjukkan risiko disproporsi
kepala-panggul (CPD).
Ketidak-mampuan untuk berakomodasi atau disproporsi ditunjukkan melalui derajat
penyusupan atau tumpang-tindih (molase) yang berat sehingga tulang kepala yang saling
menyusup, sulit untuk dipisahkan. Apabila ada dugaan disproprosi kepala-panggul maka
penting untuk tetap memantau kondisi janin serta kemajuan persalinan. Lakukan tindakan
pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu dengan dugaan proporsi kepala-panggul (CPD) ke fasilitas kesehatan rujukan.
Setiap kali melakukan periksa dalam, nilai penyusupan antar tulang (molase) kepala janin.
Catat temuan yang ada di kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban. Gunakan lambanglambang
berikut ini:
0: tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi
1 ; tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2: tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi masih dapat dipisahkan
3: tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan
Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan. Angka
0-10 yang tertera di kolom paling kiri adalah besamya dilatasi serviks. Nilai setiap angka
sesuai dengan besamya dilatasi serviks dalam satuan centimeter dan menempati lajur dan
kotak tersendiri.
Perubahan nilai atau perpindahan lajur satu ke lajur yang lain menunjukkan penambahan
dilatasi serviks sebesar 1 cm. Pada lajur dan kotak yang mencatat penurunan bagian terbawah
janin tercantum arigka 1-5 yang sesuai dengan metode perlimaan seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya (Menentukan Penurunan Janin). Setiap kotak segi empat atau kubus
menunjukkan waktu 30 menit untuk pencatatat waktu pemeriksaan, denyut jantung janin,
kontraksi uterus dan frekuensi nadi ibu.
1. Pembukaan serviks
Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Pemeriksaan Fisik dalam bab ini,
nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering dilakukan jika ada tanda-tanda
penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf setiap temuan dari
setiap pemeriksaan. Tanda ‘X’ harus dicantumkan di garis waktu yang sesuai dengan lajur
besamya pembukaan serviks.

Perhatikan:

• Pilih angka pada tepi kiri luar kolom pembukaan serviks yang sesuai dengan besamya

pembukaan serviks pada fase aktif persalinan yang diperoleh dari hasil periksa dalam.
• Untuk pemeriksaan pertama pada fase aktif persalinan, temuan (pembukaan serviks) dari
hasil periksa dalam harus dicantumkan pada garis waspada. Pilih angka yang sesuai
dengan bukaan serviks (hasil periksa dalam) dan cantumkan tanda ‘X’ pada ordinat atau
titik silang garis dilatasi serviks dan garis waspada.
Hubungkan tanda ‘X’ dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus)

2. Penurunan bagian terbawah janin

Setap kali melakukan periksa dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering (jika ditemukan tandatanda
penyulit). Cantumkan hasil pemeriksaan penurunan kepala (perlimaan) yang
menunjukkan seberapa jauh bagian terbawah janin telah memasuki rongga panggul. Pada
persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks selalu diikuti dengan turunnya bagian
terbawah janin. Tapi ada kalanya, penurunan bagian terbawah janin baru terjadi setelah
pembukaan serviks mencapai 7 cm.
Tulisan “Turunnya kepala” dan garis tidak terputus dari 0-5, tertera di sisi yang sama dengan
angka pembukaan serviks. Berikan tanda ‘0’ yang ditulis pada garis waktu yang sesuai.
Sebagai cantah, jika hasil pemeriksaan palpasi kepaia di atas simfisi pubis adalah 4/5 maka
tuliskan tanda “0” di garis angka 4. Hubungkan tanda ‘0’ dari setiap pemeriksaan dengan
garis tidak terputus

3. Garis waspada dan garis bertindak
Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik dimana
pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan adalah 1 cm per jam. Pencatatan
selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks
mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam), maka
harus dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya : fase aktif yang memanjang, serviks kaku,
atau inersia uteri hipotonik, dll).

Pertimbangkan perlunya melakukan intervensi bermanfaat yang diperlukan, rnisalnya :
persiapan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang memiliki
kemampuan untuk menatalaksana penyulit atau gawat darurat obstetri. Garis bertindak tertera
sejajar dan di sebelah kanan (berjarak 4 jam) garis waspada. Jika pembukaan serviks telah
melampaui dan berada di sebelah kanan garis bertindak maka hal ini menunjukkan perlu
diakukan tindakan untuk menyelesaikan persalinan. Sebaiknya, ibu harus sudah berada di
tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.
Jam dan waktu
1. Waktu Mulainya Fase Aktif Persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-kotak yang
diberi angka 1-12. Setiap kotak menyatakan satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.
2. Waktu Aktual Saat Pemeriksaan atau Penilaian
Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat
waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan
berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit yang berhubungan dengan lajur untuk
pencatatan pembukaan serviks, DJJ di bagian atas dan lajur kontraksi dan nadi ibu di bagian
bawah. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, cantumkan pembukaan serviks di garis
waspada. Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.
Sebagai contoh, jika hasil periksa dalam menunjukkan pembukaan serviks adalah 6 cm pada
pukul 15.00, cantumkan tanda ‘X’ di garis waspada yang sesuai dengan lajur angka 6 yang
tertera di sisi luar kolom paling kiri dan catat waktu aktual di kotak pada lajur waktu di bawah
lajur pembukaan (kotak ke tiga dari kiri).
Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf, terdapat lima kotak dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” di
sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba
dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.
Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan cara mengisi kotak kontraksi yang tersedia dan disesuaikan dengan angka yang mencerrninkan temuan dari hasil
pemeriksaan kontraksi . Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali
10 menit, maka lakukan pengisian pada 3 kotak kontraksi

Obat-Obatan Dan Cairan Yang Diberikan

Dibawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin,
obat-obat lainnya dan cairan IV.

1. Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit
oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.

2. Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang sesuai
dengan kolom waktunya.

Kondisi Ibu
Bagian terbawah lajur dan kolom pada halaman depan partograf, terdapat kotak atau ruang
untuk mencatat kondisi kesehatan dan kenyamanan ibu selama persalinan.
1. Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.
• Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan (lebih sering jika
diduga adanya penyulit). Beri tanda titik (.) pada kolom waktu yang sesuai.
• Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih sering
jika diduga adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom waktu yang
sesuai.
Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika teIjadi peningkatan mendadak atau
diduga adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh pada kotak yang sesuai.

2. Volume urin, protein dan aseton

Ukur dan catat jumlahjproduksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu berkernih).
Jika memungkinkan, setiap kali ibu berkernih, lakukan pemeriksaan aseton dan protein dalam
urin.

Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya
Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom partograf,
atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu
saat membuat catatan persalinan
Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinis mencakup:
• Jumlah cairan per oral yang diberikan
• Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur
• Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum)
• Persiapan sebelum melakukan rujukan

ASUHAN KEBIDANAN LETAK SUNGSANG

B A B I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Persalinan adalah suatu moment yang menyenangkan sebagai suatu perjuangan untuk menjalankan peranan sebagai wanita sekaligus peranan seorang ibu dengan berbagai kemungkinan resiko, dalam hal ini ibu termasuk kategori ibu bersalin yang beresiko tinggi karena kehamilan yang di alami ibu adalah kehamilan dengan letak sungsang sehingga dalam proses persalinan bidan berperan memberikan motifasi dan Asuhan Sayang Ibu, serta penerapan Lima Aspek Dasr atau Lima Benang Merah yang penting dan saling terkait dalam asuhan yang bersih dan nyaman. Serta pemantauan janin yang ketat diawali dari pemeriksaan kehamilan yang rutin. Dengan demikian diharapkan depat mengurangi dan menangani morbiditas dan mortalitas pada ibu bersalin, karena kejadian letak sungsang berkisar antara 2%-3% bervariasi diberbagai tempat. Sekalipun kejadiannya kecil tetapi mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian sekitar 20%-30%.

Padas letak kepala, kepala merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan persalinan letak sungsang justru kepala merupakan bagian dari bayi yang lahir terakhir.

Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “moulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah badan lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme moulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar.

Persalinan letak sungsang dalam laporan ini, disebutkan banyak berpengaruh terhadap ibu seperti : kemungkinan robekan pada perineum lebih besar, juga kiarena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi.

Terhadap janin bisa terjadi gangguan  peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir karena tali pusat terjepit antara kepala panggul dan anak bisa menderita asfiksia. Yang mana pengaruh tersebut merupakan salah satu penyebab angka morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal. Penulis tertarik untuk mengambil kasus Asuhan Kebidanan pada Ny,”D” G1 P0000 Ab000 UK 38 minggu T/H/I Inpartu Kala 1 Fase Laten dengan Letak Sungsang.

Dengan demikian dapat diketahui apakah hal ini sesuai dengan teori yang telah ada baik dalam hal penanganan atau lainya. Sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih membutuhkan banyak bimbingan serta arahan baik dari pembimbing klinik lapangan dan pembimbing pendidikan yang dapat bermanfaat untuk saat ini atau yang akan datang dem I kemajuan dan peningkatan dalam Asuhan Kebidanan yang bermutu dan relevan sesuai dengan standart yang berlaku.

 

1.2  Tujuan Penulisan

1.1.1        Tujuan Umum

Melalui penulisan laporan ini diharapkan mahasiswa dapat menerapkan dan melaksanakan pelayanan/ asuhan kebidanan pada ibu bersalin, sehingga menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam proses belajar praktek klinik lapangan di Pustu Gunung Rejo yang masih banyak memerlukan bimbingan, pengetahuan, arahan, pengalaman serta ketrampilan.

 

1.1.2        Tujuan Khusus

Dengan disusunnya laporan ini mahasiswa diharapkan :

1.      Mahasiswa dapat mengkaji dan menganalisa data

2.      Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah

3.      Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial

4.      Mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan segera

5.      Mahasiswa dapat merencanakan asuhan kebidanan

6.      Mahasiswa dapat melaksanankan asuhan kebidanan yang telah direncanakan

7.      Mahasiswa dapat mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan

1.3  Ruang Lingkup

Ruang lingkup asuhan kebidanan ini hanya pada asuhan kebidanan pada Ny. “D” G1 P0000 Ab000 UK 38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 fase laten dengan letak sungsang di Pustu Gunung Rejo tanggal 9 Desember 2006.

1.4  Metode Penulisan

Metode penulisan yang penulis gunakan dalam laporan Asuhan Kebidanan ini adalah melalui :

a.       Metode kepustakaan dengan membaca literatur yang berkaitan dengan topik masalah.

b.      Praktek langsung dengan memberikan asuhan dan pendekatan pada klien inpartu di Pustu Gunung Rejo.

c.       Data sekunder yaitu rekam medik atau status kesehatan klien.

d.      Serta bimbingan dan arahan dari pembimbing klinik lapangan dan pendidikan.

 

1.5  Tempat dan waktu Pelaksanaan

Laporan ini adalah hasil kegiatan praktek klinik lapangan di Pustu Gunung Rejo yang dilaksanakan tanggal 9 Desember 2006.

 

1.6  Sistematika Penulisan

BAB I       : Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

1.2  Tujuan Penulisan

1.2.1   Tujuan Umum

1.2.2   Tujuan Khusus

1.3  Ruang Lingkup

1.4  Metode Penulisan

1.5  Pelaksanaan

1.6  Sistem Penulisan

BAB II      : Tinjauan Pustaka

BAB III    : Tinjauan Kasus

BAB IV    : Pembahasan

BAB V      : Penutup

                    5.1 Kesimpulan

                    5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B A B II

TINJAUAN TEORI

 

2.1 Pengertian

Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bawah kavum uteri

(Ilmu Kebidanan, Sarwono)

 

2.2 Etiologi

Penyebab letak sungsang dapat berasal dari :

2.2.1 Sudut Ibu

a.    Keadaan rahim

–          Rahim arkuatus

–          Septum pada rahim

–          Uterus dupleks

–          Mioma bersama kehamilan

b.    Keadaan plasenta

–          Plasenta letak rendah

–          Plasenta previa

c.    Keadaan jalan lahir

–          Kesempitan panggul

–          Deformitas tulang panggul

–          Terdapat tumor menghalangi jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala

2.2.2 Sudut Janin

          Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang :

a.       Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat

b.      Hidrosefalus atau anensefalus

c.       Kehamilan kembar

d.      Hidramnion atau oligohidramnion

e.       Prematuritas

 

 

2.3 Diagnosis

a.       Palpasi

Kepala teraba difundus, bagian bawah bokopng dan punggung di kiri atau kanan

b.      Auskultasi

Djj paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat

                                              

                                         Djj x     Djj x

 
   

 

 

 

c.       Pemeriksaan Dalam

Dapat diraba os sakrum, tuber ischii, dan anus, kadang-kadang kaki (pada letak kaki)

Bedakan antara :

–          Lubang kecil                                            – menghisap

–          Tulang –                           anus                 – rahang                       mulut

–          Isap –                                                       – lidah

–          Mekonium +

–          Tumit                                                        – jari panjang

–          Sudut 900                                 kaki                       – tidak ada                   tangan siku

–          Rata jari-jari                                             – patella –

d.      Pemeriksaan foto rontgent : bayangan kepala di fundus

2.4 Bentuk-bentuk letak sungsang

berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat di tentukan beberapa bentuk letak sungsang sebagai berikut :

a.Letak bokong murni

–       Teraba bokong

–       Kedua kaki menjungkit

–       Kedua kaki bertindak sebagai spalk

b. letak bokong kaki sempurna

–       Teraba bokong

–       Kedua kaki berada di samping bokong

c. letak bokong tidak sempurna

–       Teraba bokong

–       Disamping bokong teraba satu kaki

d. letak kaki

–       Bila bagian terendah teraba salah satu dan kedua kaki atau lutut

–       Dapat dibedakan : letak kaki terendah, letak lutut bila lutut terendah

Untuk menentukan berbagai letak sungsang dapat di lakukan dengan melakukan pemeriksaan dalam, pemeriksaan foto abdomen, dan pemeriksaan ultrasonografi.

2.5 Prognosis

a.       Bagi Ibu

Kemungkinan robekan pada perineum lebih besar, juga karena dilakukan tindakan, selain itu ketuban lebih cepat pecah dan partus lebih lama, jadi mudah terkena infeksi.

b.      Bagi Anak

Prognosa tidak begitu baik, larena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat terjepit antara kepala dan panggul, anak bisa menderita asfiksi.

2.6 Penatalaksanaan

2.6.1 Saat Kehamilan

diusahakan melakukan persalinan ke arah letak kepala. Versi luar (eksternal versi) dilakukan pula pada kasus letak lintang yang dapat menuju letak kepala atau letak bokong.

2.6.2 Pertolongan diselesaikan dengan :

A.       Pertolongan persalinan pervaginam

1.      Pertolongan fisiologis secara brach

2.      Ekstraksi parsial

a.       Secara klasik

b.      Secara mueller

c.       Secara loevset

3.      Persalinan kepala

a.       Secara mauriceau veit smellie

b.      Mempergunakan ekstraksi forsep

4.      Ekstraksi bokong totalis

a.       Ekstraksi bokong

b.      Ekstraksi kaki

B.            Pertolongan persalinan dengan seksio sesarea

 

2.7 Komplikasi Pertolongan persalinan letak sungsang

Komplikasi persalinan letak sungsang dapat dibagi sebagai berikut :

2.7.1 Komplikasi pada ibu

 Trias komplikasi ibu : perdarahan, robekan jalan lahir, dan infeksi

2.7.2 Komplikasi pada bayi

 Trias komplikasi bayi : asfiksi, trauma persalinan, infeksi

a.       Asfiksia bayi

Dapat disebabkan oleh :

–          Kemacetan persalinan kepala : aspirasi air ketuban-lendir

–          Perdarahan atau oedema jaringan otak

–          Kerusakan medula oblongata

–          Kerusakan persendian tulang leher

–          Kematian bayi karena asfiksia berat

b.      Trauma persalinan

–          Dislokasi-fraktura persendian, tulang ekstremitas

–          Kerusakan alat vital : lien, hati, paru-paru atau jantung

–          Dislokasi fraktura persendian tulang leher : fraktura tulang dasar kepala; fraktura tulang kepala, kerusakan pada mata, hidung atau telinga; kerusakan pada jaringan otak.

c.       Infeksi dapat terjadi karena

–          Persalinan berlangsung lama

–          Ketuban pecah pada pembukaan kecil

–          Manipulasi dengan pemeriksaan dalam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONSEP PENANGANAN LETAK SUNGSANG

 
   

 

 

 

LETAK SUNGSANG

¨       Palpasi/ Auskultasi

¨      USG/ Foto abdomen

 

                                                                       

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                       

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B A B III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN

PADA Ny. “D” G1 P0000 Ab000 UK 36-38 MINGGU T/H/I  INPARTU KALA I FASE LATEN DENGAN

LETAK SUNGSANG DI KAMAR BERSALIN PUSKESMAS XX

 

 

3.1 PENGKAJIAN DATA

Tanggal    : 09-12-2006                                     Jam      : 10.30 wib

Tempat     : Di Pustu Gunung Rejo

A. DATA SUBYEKTIF

1.      Biodata

Nama                : NY. “D”                                Nama               : Tn. “B”

Umur                : 28 th                                      Umur               : 36 th

Pendidikan       : SMA                                     Pendidikan      : SMA

Pekerjaan          : IRT                                        Pekerjaan         : Swasta

Agama              : Islam                                     Agama             : Islam

Alamat              : xxx                                        Alamat                        : xxx

2.      Keluhan Utama

Ibu mengatakan perutnya kenceng-kenceng dan keluar lendir dan darah dari kemaluannya

3.      Riwayat Kehamilan Sekarang

Ibu mengatakan selama hamil ibu memeriksakan kehamilannya 9 kali dari awal kehamilan sampai sekarang dan di awal kehamilannya ibu mengalami mual muntah sempai usia kehamilan 3 bulan. Ibu mengatakan usia kehamilannya saat ini adalah 9 bulan dan ibu merasakan gerakan janinnya.

4.      Riwayat Kesehatan yang lalu

Ibu mengatakan tidak memiliki penyakit menular, menurun, menahun, seperti DM, HT, Asma, dll.

5.      Riwayat Kesehatan Keluarga

Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit menular, menurun, menahun dan tidak ada keturunan kembar baik dari pihak istri maupun suami.

6.      Riwayat Haid

HPHT   : 13-3-2006

TP         : 20-12-2006

Siklus    : 28 hari

Lama    : ± 7 hari

7.      Riwayat KB

Ibu mengatakan belum pernah mengikuti program KB

8.      Pola Kebiasaan sehari-hari

a.       Pola istirahat

Selama hamil : ibu tidur siang ± 2 jam, malam hari ± 8 jam tidak ada gangguan

b.      Pola aktifitas

Selama hamil : ibu melakukan aktifitas sebagai ibu rumah tangga (memasak dan menyapu, dsb)

c.       Pola eliminasi

Selama hamil : BAB 1 x/hari, konsistensi lembek, warna kuning

                          BAK ± 5 x/hari, warna kuning jernih

d.      Pola nutrisi

Selama hamil : makan 3 x/hari, menu : lauk pauk, sayur, kadang buah

e.       Personal hygiene

Selama hamil : mandi 2 x/hari, ganti celana dalam tiap kali mandi dan ganti baju tiap kali mandi, gosok gigi tiap kali mandi, keramas 2x seminggu

f.       Data psikososial

Kehamilan ini di inginkan oleh ibu, suami dan keluarga.

Hubungan ibu dengan keluarga dan tetangga baik

 

B. DATA OBYEKTIF

1.    Pemeriksaan Umum

K/U                    : baik

Kesadaran          : composmentis

Tekanan Darah  : 120/80 mmHg

Nadi                   : 84 x/menit

Suhu                  : 365 0C

Berat badan       : 73 kg (saat hamil), sebelum : 65 kg

Tinggi badan      : 165 cm

 

2.    Pemeriksaan Fisik

Kepala             : bentuk bulat, raqmbut lurus, tidak rontok

Muka               : # pucat, # oedem, # hiperpigmentasi, tampak menahan nyeri

Mata                : Simetris, conjungtiva # anemis, sklera # kuning

Hidung            : Simetris, # secret, # pernapasan cuping hidung

Mulut              : Bibir tidak kering,, # stomatis, # caries gigi

Telinga            : Simetris, # serumen, # gangguan pendengaran

Leher               : # pembesaran Vena jugolaris dan # pembesaran kelenjar tyroid

Dada               : # nyeri tekan, # retraksi dinding dada, payudara simetris dan nampak membesar, putting susu menonjol, adanya hiperpigmentasi pada areola mamae# nyeri tekan di payudara, # benjolan abnormal pada payudara, colostrum belum keluar, putting susu kenyal.

Perut                 : tampak membesar sesuai UK, # bekas operasi, adanya linea nigra

Leopold I               : TFU pertengahan antara pusat dan Px, TFU= 33 cm, teraba kepala di fundus

Leopold II           : teraba punggung di sebelah kanan, DJJ + 12-11-11 (138 x/mnt)

   Leopold .III         : bokong masuk PAP (       )

   Leopold IV          : masuk PAP 3/5 bagian (       )

   His                       : 10’x 2 x 30” (jarang, tidak adekuat)

Genetalia         : # oedem, # varises, # kelainan, adanya pengeluaran lendir dan darah.

Ekstremitas : atas dan bawah simeris,  # oedem

Perut    :

            Ekstremitas     : # oedem -/-,akral hangat +/+

3.    Pemeriksaan Dalam

Tanggal 09-12-2006                              jam      : 11.00 wib

–          Vulva/ vagina tampak mengeluarkan lendir dan darah

–          Terdapat pembukaan 3 cm

–          Dengan penipisan 50%

–          Ketuban +

–          Bagian terendah teraba bokong

–          Bagian terdahulu (denominator) os sakrum

–          Terdapat pada hodge II

 

 

 

3.2 IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH

DX           : G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 fase laten dengan letsu

DS            : Ibu mengatakan perutnya kenceng-kenceng dan keluar lendir dan darah dari kemaluannya

DO           : Abdomen :

Leopold I        : TFU pertengahan antara pusat dan Px, TFU= 33 cm, teraba kepala di fundus

   Leopold II    : teraba punggung di sebelah kanan, DJJ + 12-11-11 (138 x/mnt)

   Leopold .III : bokong masuk PAP (       )

   Leopold IV              : masuk PAP 3/5 bagian (       )

   His                : 10’x 2 x 30” (jarang, tidak adekuat)

¨      Genetalia           : # oedem, # varises, # kelainan, adanya pengeluaran lendir dan darah.

¨          Pemeriksaan dalam :

–             Vulva/ vagina tampak mengeluarkan lendir dan darah

–             Terdapat pembukaan 3 cm

–             Dengan penipisan 50%

–             Ketuban +

–             Bagian terendah teraba bokong

–             Bagian terdahulu (denominator) os sakrum

–             Terdapat pada hodge II

 

3.3 IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL

¨      Pada ibu         : – partus lama

  – persalinan macet

¨      Pada bayi       : – asfiksi

  – trauma kelahiran

3.4 IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

Rujuk

3.5 INTERVENSI

DX           : G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 fase laten dengan letsu

Tujuan      : tidak terjadi komplikasi

KH           : – ibu dan janin dalam keadaan sehat

                   – persalinan dapat berjalan lancar

Intervensi :

1.      Jelaskan pada ibu tentang keadaan kehamilannya

R/ dengan adanya penjelasan klien dapat kooperatif dalam setiap tindakan

2.      Lakukan observasi TTV dan CHPB

R/ deteksi dini perubahan yang terjadi sesuai parameter

3.      Persiapan proses rujukan

R/ antisipasi kegawat daruratan yang terjadi pada pasien

 

3.6 IMPLEMENTASI

DX           : G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 fase laten dengan letsu

1.      Menjelaskan pada ibu bahwa pembukaan hampir lengkap dan ketuban sudah pecah, dan ibu harus segera dirujuk agar tidak terjadi kegawat daruratan

2.      Lembar observasi

Tanggal /

jam

TTV

CHPB

TD (mmHg)

N

S

RR

C

H

P

B

09-12-2006/ 10.30 wib

 

 

 

09-12-2006/ 13.15 wib

 

 

 

09-12-2006/

13.30 wib

( RUJUK )

120 / 80

 

 

 

 

120 / 80

 

 

 

 

120 / 80

 

84 x/’

 

 

 

 

84 x/’

 

 

 

 

84 x/’

365 0 C

 

 

 

 

365 0C

 

 

 

 

365 0 C

20 x/’

 

 

 

 

20 x/’

 

 

 

 

20 x/’

12-11-11

 

 

 

 

12-11-11

 

 

 

 

12-11-11

10’x4x40”

 

 

 

 

10’ x4x40”

 

 

 

 

10’ x4x40”

Φ 3 cm

Eff : 50%, ket +, H II, letkong

Φ 8 cm, eff : 75%, ket -, H III, anus +

Φ 9 cm, eff 75%, ket -, H IV, letkong

Kosong

 

 

 

 

Kosong 

 

 

 

 

Kosong

 

 

 

3.      Menyiapkan prosedur rujukan dengan menggunakan BAKSOKU :

B    : bidan yang mengantar adalah bidan Ririn dan mahasiswa praktek

A    : alat yang dibawa adalah partus set, heating set

K    : keluarga yang menyertai adalah suami

S     : surat rujukan termasuk informed consent

O    : obat yang di bawa untuk merujuk adalah oxytocin

K    : kendaraan yang di gunakan adalah mobil carteran

U    : uang disediakan oleh keluarga

 

3.7 EVALUASI

Tanggal    : 9-12-2006                              jam      : 13.30

DX           : G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 fase laten dengan letsu

S   :- ibu mengatakan pasrah pada yang diatas tentang proses persalinannya

–       ibu mengatakan setuju untuk dirujuk dan juga keluarga menyetujuinya demi keselamatan   ke-2nya

O            : -TTV : K/U               : baik

Kesadaran     : composmentis

TD                 : 120/80 mmHg

Nadi              : 84 x/menit

Suhu              : 365 0C

                – CHPB : His              : 10’ x 4 . 40”

                                VT              : Φ 9 cm

                                 Eff             : 75 %

                                 Ket                        : (-), H IV

                                 Djj             : (+), 12-11-11 / menit teratur

                                 Presentasi bokong

–                 Bidan siap mengantar pasien ketempat rujukan dengan peralatan, surat dan informed consent yang telah di tandatangani

–                 Keluarga ikut mengantar ke tempat rujukan

–                 Kendaraan siap megantar ke tempat rujukan

A  : Ibu “D” G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 Fase Aktif dengan letsu

P   : – mengantar pasien ke tempat rujukan

       – mendelegasikan perawatan pasien pada perawat RS Mutiara Bunda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPS, Jakarta

2.      Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kebidanan. YBPS. Jakarta

3.      Ida Bagus, Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. EGC, Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B A B IV

PEMBAHASAN

 

     Dalam kasus Asuhan Kebidanan pada Ny. “D” G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 Fase Laten dengan LETSU tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Karena dalam teori bahwa untuk kasus Letak Sungsang sebaiknya adalah dilakukan proses persalinan di Rumah Sakit untuk mengantisipai kegawat daruratan dan juga dalam APN bahwa Letak Sungsang masuk dalam 19 penapisan yang memerlukan penanganan khusus. Dan di lapangan telah di lakukan sesuai prosedur yaitu pasien di rujuk ke Instansi yang lebih tinggi (Rumah Sakit).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B A B V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

            Asuhan Kebidanan Ny. “D” G1 P0000 Ab000 UK 36-38 minggu T/H/I Inpartu kala 1 Fase Laten dengan Letak Sungsang.

       Terjadi pada ibu dengan usia 28 tahun dengan kehamilan primi, dalam hal ini ibu termasuk kategori Resiko Tinggi yang membutuhkan pengawasan baik saat hamil terlebih lagi dalam proses persalinan. Dengan Asuhan Kebidanan ibu dengan kehamilan letak sungsang dapat segera di atasi dengan merujuk guna antisipasi kegawat daruratan yang mungkin terjadi.

 

5.2 Saran

            Persalinan adalah hal yang membutuhkan suatu pengawasan sesuai dengan standart, dalam kasus ini adalah ibu bersalin dengan letak sungsang. Diharapkan klien dan Nakes dapat bekerja sama dengan baik, karena kehamilan dengan letak sungsang dapat berpengaruh terhadap ibu dan janin yang di kandungnya dalam proses persalinannya. Juga membutuhkan pengawasan yang baik terutama selama pemeriksaan kehamilan (ANC) untuk memantau keadaan janin.

            Salah satunya adalah dengan KIE tentang cara menungging yang benar selama kehamilan mulai pada awal trimester ke III, dalam hal ini KIE yang di berikan pada ibu saat ANC sangat di butuhkan. Selain Nakes, klien juga harus berperan aktif dalam kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga penyulit tidak akan terjadi. Terutama pada Nakes bahwa harus lebih mampu mendeteksi letak janin di dalam kandungan karena lebih awal di ketahui adanya ke tidak normalan posisi janin akan laebih mudah antisipasi dalam penanganan.

 

Diproteksi: SOLUSIO PLASENTA

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: