Masalah Kematian ibu dan bayi dalam kebidanan komunitas

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur dengan menentukan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan perinatal dalam 100.000 persalinan hidup. Sedangkan tingkat kesejahteraan suatu bangsa ditentukan dengan seberapa jauh gerakan keluarga berencana dapat diterima masyarakat. (Manuaba, 1998)
Angka kematian ibu dan kematian perinatal masih tinggi. Sebenarnya kematian tersebut masih dapat dihindari karena sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama sangat diperlukan, tetapi penyelenggara kesehatan tidak sanggup untuk memberikan pelayanan. Penyebab kematian ibu masih tetap merupakan “trias klasik”, sedangkan sebab kematian perinatal terutama oleh “trias asfiksia”, infeksi, dan trauma persalinan. (Manuaba, 1998)
Kematian dan kesakitan ibu dan perinatal juga berkaitan dengan pertolongan persalinan “dukun” sebanyak 80% dan berbagai faktor sosial budaya dan faktor pelayanan medis. Kematian ibu (maternal) bervariasi antara 5 sampai 800 per 100.000 persalinan, sedangkan kematian perinatal berkisar antara 25 sampai 750 per 100.000 persalinan hidup. (Manuaba, 1998)
Oleh karena angka kematian ibu dan perinatal terbesar terjadi di negara berkembang maka WHO dan UNICEF mencetuskan ide Health for all by the years 2000, dengan harapan setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan pada tahun 2000. Konsep pelaksanaan Health for all by the years 2000 menjadi pelayanan kesehatan utama. Unsur pelayanan kesehatan utama mencakup:
Salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat penurunan AKI adalah dengan menempatkan bidan di wilayah Indonesia khususnya di wilayah pedesaan (Depkes RI, 1995). Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu yaitu dengan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer, yang mempunyai tujuan sama yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, kebijaksanaan Departemen Kesehatan adalah mendekatkan pelayanan obstetri dan neonatal (kebidanan dan bayi baru lahir) kepada setiap ibu hamil sesuai dengan pendekatan Making Pregnancy Safer (MPS),yang mempunyai 3 (tiga) pesan kunci :
1.1.1 Semua persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
1.1.2 Semua komplikasi obstetri mendapat pelayanan rujukan yang
adekuat.
1.1.3 Semua perempuan dalam usia reproduksi mendapat akses
pencegahan dan penatalaksanaan kehamilan yang tidak diinginkan
dan aborsi yang tidak aman (Depkes RI, 2001).
Bidan di wilayah pedesaaan diharapkan mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu dengan kehamilan normal, kehamilan dengan komplikasi dan kehamilan resiko tinggi, serta mampu memberikan pertolongan persalinan normal, sehingga dapat mempercepat penurunan AKI (Depkes RI, 2002).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui masalah kematian maternal dan neonatal dalam Kebidanan
komunitas.
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus makalah ini adalah untuk :
1.2.2.1 Memahami masalah tentang kematian maternal dan neonatal.
1.2.2.2 Mengidentifikasi penyebab kematian maternal dan neonatal.
1.2.2.3 Mengidentifikasi pemecahan masalah kematian maternal dan
neonatal.
1.2.2.4 Memahami peran Bidan dalam mata rantai menurunkan angka
kematian dan kesakitan Ibu dan Perinatal di Indonesia.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Maternal dan Neonatal
2.1.1 Kematian Maternal
Kematian maternal menurut batasan dari The Tenth Revision of The International Classification of Diseases (ICD – 10) adalah kematian wanita yang terjadi pada saat kehamilan, atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan, atau yang diperberat oleh kehamilan tersebut atau penanganannya, tetapi bukan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan atau kebetulan.
Kematian maternal adalah kematian dari setiap wanita sewaktu dalam kehamilan, persalinan dan dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan tanpa mempertimbangkan lamanya serta di mana kehamilan tersebut berlangsung (FIGO, 1973).
Terdapat 3 komponen dalam proses kematian ibu. Yang paling dekat dengan kematian dan kesakitan ibu adalah kehamilan, persalinan, atau komplikasinya. Komponen kehamilan, komplikasi, atau kematian secara lengkap dipengaruhi oleh 5 determinan antara, yaitu status kesehatan, status reproduksi, akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan, dan faktor lain yang tidak diketahui
2.1.2 Kematian Perinatal
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian yaitu karena asfiksia, trauma kelahiran, infeksi, prematuritas, kelainan bawaan, dan sebab-sebab lainnya.

Penurunan angka kematian perinatal yang lambat disebabkan oleh kemiskinan, status perempuan yang rendah, gizi buruk, deteksi dan pengobatan yang kurang cukup, kehamilan dini, akses dan kualitas asuhan antenatal, persalinan, dan nifas yang buruk.
2.2 Penyebab Kematian Maternal
Trias utama kematian maternal adalah perdarahan, infeksi, dan eklamsi.
2.2.1 Sebab Obstetrik Langsung
Adalah kematian ibu karena akibat langsung dari penyakit penyulit pada kehamilan, persalinan dan nifas, misalnya karena infeksi, eklamsi, perdarahan, emboli air ketuban, trauma anestesi, trauma operasi, dan sebagainya.
2.2.2 Sebab Obstetrik Tidak Langsung
Adalah kematian ibu akibat penyakit yang timbul selama kehamilan, persalinan dan nifas. Misalnya anemia, penyakit kardio vaskuler, serebro vaskuler, hepatitis infeksiosa, penyakit ginjal, dan sebagainya. Termasuk juga adalah penyakit yang sudah ada dan bertambah berat selama kehamilan.
2.2.3 Sebab Bukan Obstetrik
Adalah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas akibat kejadian-kejadian yang tidak ada hubungannya dengan proses reproduksi dan penangannya. Misalnya karena kecelakaan, kebakaran, tenggelam, bunuh diri, den sebagainya.
2.2.4 Sebab Tidak Jelas
Adalah kematian ibu yang tidak dapat digolongkan pada salah satu yang tersebut di atas.
Dari penyebab-penyebab di atas, dapat pula bagi dalam 2 golongan:
2.2.4.1 Kematian yang dapat dicegah
Disebut juga preventable maternal death avoidable factors, adalah kematian ibu yang seharusnya dapat dicegah seandainya penderita mendapat pertolongan atau datang pada saat yang tepat sehingga dapat ditolong secara profesional dengan fasilitas dan sarana yang cukup.
2.2.4.2 Kematian yang tidak dapat dicegah
Yaitu unpreventable maternal death, adalah kematian ibu yang tidak dapat di hindari walaupun telah dilakukan segala daya upaya yang baik. Misalnya pada nefritis kronis, penyakit jantung berat, dan sebagainya.

2.3 Penyebab Utama Kematian Perinatal
2.3.1 Penyebab langsung :
2.3.1.1 Persalinan premature
Persalinan preterm adalah persalinan dengan berat bayi kurang dari 2500 gram dengan organ – organ vital belum sempurna sehingga mudah terjadi gangguan pernapasan, gangguan pencernaan makanan, mudah terjadi infeksi dengan akibat AKP tinggi.
2.3.1.1 Persalinan terlantar / dukun
Dengan makin meningkatnya pengetahuan dan ekonomi masyarakat, makin menurunkan kejadian “persalinan terlantar”. Persalinan terlantar merupakan persalinan yang disertai komplikasi ibu dan janin dalam bentuk rupture uteri imminen, infeksi intrauterine, asfiksia sampai kematian janin intrauterine, kelelahan ibu menghadapi persalinan (tampak lelah, dehidrasi, ketuban berampur mekoneum [asfiksia janin])
2.3.1.2 Kelainan kongenital
Kelainan kongenital merupakan manifestasi penyimpangan pertumbuhan dan pembentukan organ tubuh. Penyebab kelainan kongenital tidak diketahui dengan pasti, tetapiu dapat di duga karena kelainan kromosom, pengaruh hormanal, lingkungan endometrium yang kurang subur, kelainan metabolisme, pengaruh obat teratogenik, dan inveksi virus (Manuaba, 1998). Akibat kelainan kongenital bayi yang dilahirkan banyak yang tidak dapat bertahan hidup.

2.3.2 Penyebab tidak langsung
2.3.2.1 Anemia dan gizi rendah
2.3.2.2 Factor infeksi
2.3.2.3 Kerja saat hamil tua
2.3.2.4 Grandemultipara/jarak hamil pendek.

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Kematian Maternal
Di Indonesia, faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kematian
maternal antara lain adalah:
2.4.1 Faktor Umum
Masih banyak terjadi perkawinan, kehamilan dan persalinan diluar kurun waktu reproduksi yang sehat, terutama pada usia muda. Resiko kematian pada kelompok umur dbawah 20 tahun dan pada kelompok umur diatas 35 tahun adalah 3x lebih tinggi dari kelompok umur reproduksi sehat (20-34 tahun)

2.4.2 Faktor Paritas
Grandemultipara, yaitu ibu dengan jumlah kehamilan dan persalinan lebih dari 6 kali masih banyak terdapat. Resiko kematian maternal dari golongan ini adalah 8 kali lebih tinggi dari lainnya.

2.4.3 Faktor Perawatan Antenatal
Masih rendahnya kesadaran ibu-ibu hamil untuk memeriksa kandungannya pada sarana kesehatan, sehingga faktor-faktor yang sesungguhnya dapat dicegah atau komplikasi kehamilan yang dapat diperbaiki serta di obati tidak segera dapat ditangani. Seringkali mereka datang setelah keadaannya buruk.

2.4.4 Faktor Penolong
Sekitar 70-80 % persalinan masih ditolong oleh dukun beranak, baru setelah persalinan terlantar dan tidak dapat maju dengan disertai dengan gejala komplikasi yang berat (infeksi, ruptura uteri) kemudian dikirim ke fasilitas kebidanan yang memadai. Bila sudah demikian, apapun yang kita usahakan kadang kala tidak dapat menolong ibu maupun anaknya.

2.4.5 Faktor saran dan Fasilitas
Misalnya sarana dan fasilitas rumah sakit, penyediaan darah dan obat-obatan yang murah dan terjangkau masyarakat, disediakannya fasilitas anastesi, transportasi dan sebagainya.

2.4.6 Faktor Lainnya
Yaitu faktor sosial ekonomi, kepercayaan dan budaya masyarakat, pendidikan dan ketidaktahuan dan sebagainya.

2.4.7 Faktor Sistem Rujukan
Agar pelayanan kebidanan mudah dicapai, pemerintah telah menetapkan seorang ahli kebidanan disetiap ibu kota kabupaten, namun belum seluruh ibu kota kabupaten dapat diisi, oleh karena itu rujukan kasus kebidanan belum sempurna.

2.5 Pemecahan Masalah Kematian Maternal dan Perinatal
Menurut Prawirohardjo hal-hal dibawah ini sangat perlu menjadi perhatian untuk dikembangkan seluas-luasnya dalam membina pelayanan kebidanan yang baik dan bermutu:
2.5.1 Semua ibu hamil harus mendapat kesempatan dan
menggunakan kesempatan untuk menerima pengawasan serta
pertolongan dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
2.5.2 Pelayanan yang diberikan harus bermutu
2.5.3 Walaupun tidak semua persalinan berlangsung dirumah sakit
namun, bila ada komplikasi harus mendapat perawatan segera
di rumah sakit.
2.5.4 Diberikan prioritas bersalin di rumah sakit kepada:
2.5.4.1 Wanita dengan komplikasi obstetrik, seperti panggul
sempit, pre-eklamsi dan eklamsi, kelainan letak,
kehamilan ganda dan sebagainya.
2.5.4.2 Wanita dengan riwayat obstetrik yang jelek, seperti
perdarahan postpartum, kematian janin sebelum lahir,
dan sebagainya pada kehamilan sebelumnya.
2.5.4.3 Wanita hamil dengan penyakit umum, seperti penyakit
jantung, diabetes dan sebagainya.
2.5.4.4 Wanita dengan kehamilan ke 5 atau lebih
2.5.4.5 Wanita dengan umur 35 tahun ke atas
2.5.4.6 Wanita dengan keadaan di rumah yang tidak
memungkinkan persalinan dengan aman.

Adanya statistik yang baik mengenai penduduk, mengenai kelahiran serta kematian maternal menurut umur dan paritas, mengenai kematian perinatal dan mengenai sebab-sebab kematian maternal dan perinatal. Semuanya ini diperlukan untuk terus membina dan menyempurnakan pelayanan kebidanan pada masa yang akan datang.
Selain hal-hal tersebut di atas, keadaan kesehatan baik fisik maupun mental wanita hamil diperbaiki dan ditingkatkan. Ditambah pula dengan kemajuan terus menerus dalam ilmu dan praktek kebidanan, pembatasan jumlah anak sampai 2 atau 3 dan peningkatan taraf kehidupan rakyat pada umumnya

2.6 Peran Bidan Dalam Mata Rantai Menurunkan Angka kematian dan Kesakitan Ibu dan Perinatal di Indonesia.
Bidan sebagai tenaga medis terdepan di tengah masyarakat memegang peranan yang sangat penting untuk dapat member pendidikan masyarakat, sehingga dapat dapat ikut serta menurunkan AKI dan AKP. Untuk dapat menurunkan AKI dan AKP dapat dicanangkan pokok upaya, di antaranya asuhan antenatal intersif, meningkatkan status wanita Indonesia, melaksanakan gerakan keluarga berencana, meningkatkan system rujukan, mendekatkan pelayanan di tengah masyarakat sebagai upaya mengatasi factor keterlambatan.

2.6.1 Meningkatkan Pelaksanaan Asuhan Antenatal
Dengan melakukan asuhan antenatal sebanyak empat kali sudah dianggap cukup (sekali setiap kali pada semester ketiga). Tujuan pemberian asuhan ini adalah :
2.6.1.1 Mempersiapkan kehamilah sehat optimal
2.6.1.2 Mempersiapkan persalinan aman dan bersih
2.6.1.3 Menentukan kehamilan dengan risiko
2.6.1.4 Mempersiapkan kesehatan pascapartus dan laktasi
2.6.1.5 Memberi KIE atau motivasi keluarga berencana
Selain itu dilakukan pemberian vaksinasi tetanus toksoid dan mengarahkan persalinan aman dan bersih. Bila kehamilan berisiko rendah, dapat diatasi secara setempat. Bila kehamilan dicurigai harus dilakukan rujukan ke rumah sakit.
2.6.2 Meningkatkan Status Wanita Indonesia
Peningkatan status wanita dilakukan dengan mempersiapkan perkawinan dan hamil ketika reproduksi sehat optimal, melakukan pemeriksanaan sebelum hamil dan perkawinan, meningkatkan gizi saat hamil, laktasi dengan orientasi empat sehat lima sempurna, mengupayakan agar cukup istirahat terutama hamil tua sehingga mantap menghadapi persalinan. Status wanita juga dapat ditingkatkan dengan mempersiapkan keluarga menghadapi masa tua bahagia dan sejahtera. Anak difasilitasi untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan untuk menghadapi abad ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.
2.6.3 Melaksanakan Gerakan Keluarga Berencana
Dengan gerakan keluarga berencana dapat dipersiapkan hamil sehat optimal umur di atas 20 tahun dan di bawah 35 tahun, menyiapkan jarak kehamilan di atas 2 tahun, mempersiapkan kemungkinan APM pada kasus tertentu, dan mempergunakan metode KB efektif.
Selain itu dilakukan penurunan hamil dengan risiko tinggi sehingga dapat dihindapi komplikasi hamil dan morbiditas serta mortalitas menurun. Perlu juga dilakukan peningkatan hubungan antar keluarga lebih harmonis yang dapat dicapai dengan menerapkan konsep catur warga, sebagai generasi pengganti, meningkatkan poleksosbudhankam keluarga, dan konsep NKKBS dapat terlaksana, khususnya perhatian terhadap anak, sehingga mengurangi pengaruh peer group.
2.6.4 Meningkatkan Sistem Rujukan
Kelambatan sistem rujukan merupakan salah satu kendala tingginya AKI dan AKP. Dengan mempercepat keputusan rujukan dapat mengurangi AKI dan AKP karena diterima di pusat pertolongan dalam keadaan adekuat. Peningkatan sistem rujukan yang tepat merupakan kendala kerena keadaan geografis Indonesia sangat luas dan berpulau. Pemerintah harus siap membantu sistem rujukan karena memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
2.6.5 Mendekatkan Pelayanan di Tengah Masyarakat
Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dapat diberikan dengan mempersiapkan bidan di desa. Bidan di sini sebagai pengganti dukun beranak. Bidan dapat melakukan pertolongan persalinan lege artis dengan polindes, mempercepat proses rujukan kehamilan berisiko tinggi, melaksanakan posyandu setiap bulan, memberi KIE-motivasi (gerakan KB, gizi sehat, imunisasi ibu / bayi-anak.
Setiap kecamatan telah memiliki Puskesmas sebagai realisasi mendekatkan pelayanan medis modern di tengah masyarakat. Puskesmas ini memberi pelayanan POED dan PONED (memberikan oksitosin, plasenta manual, mempersiapkan asfiksia). Selain itu puskesmas membantu pelaksanaan “posyandu” di desa terdekat, melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah, memberi pendidikan dan kerja sama dengan “dukun”, mengoordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit kabupaten secara medis dan ilmu pengetahuan mampu berperan optimal. Kegiatannya membina Puskesmas di tingkat kabupaten, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi dengan empat spesialis pokok (spesialis bedah, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, spesialis obstetri dan ginekologi) yang meliputi POED dan PONED, dapat melakukan bedah seksio sesarea darurat atau berencana dan histerektomo, memberi obat intravenus. Kasus risiko tinggi ditujuk ke rumah sakit provinsi serta menerima kembali perawatan lanjut. Rumah sakit kabupaten juga melakukan koordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit provinsi secara medis dan ilmu pengetahuan sebagai top rujukan provinsi yang membina rumah sakit kabupaten, mampu melakukan semua tindakan medis spesialis, mengoordinasi audit AKI dan AKP, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi. Rumah sakit ini merupakan top rujukan di tingkat provinsi dan tangan kanan koordinasi pelayanan kesehatan melalui kewilayahan kesehatan tingkat provinsi.
Upaya bidan meningkatkan penerimaan Gerakan Keluarga Berencana dalam arti merencanakan jumlah anggota keluarga yang dianggap mampu untuk ditanggung oleh kemampuan sosial ekonomi keluarga, dapat meningkat sumber daya manusia setidaknya dalam bidang pendidikan. Penerimaan keluarga berencana dalam arti Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) diharapkan dapat menurunkan jumlah ibu hamil, atau jika hamil dalam kondisi kesehatan jasmani dan rohani optimal sehingga menurunkan jumlah kematian maternal dan perinatal.
Bidan di tengah masyarakat sangat menentukan upaya untuk memberikan pelayanan bermutu dan menyeluruh yang pada saatnya mengganti peranan “dukun” dalam memberi pertolongan persalinan yang aman dan bersih.
Kunci keberhasilan Indonesia dalam upaya menurunkan angka kematian maternal dan perinatal terletak pada peran bidan di daerah pedesanaan, sebagai narasumber tenaga kesehatan terdepan dalam arti luas sehingga bidan sangat penting diberi pendidikan IpTekDok yang berkelanjutan, sehingga profesionalisme makin dapat ditingkatkan.
Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh bidan dalam ikut serta menurunkan angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan fenomena puncak gunung es, karena tidak ada seorang pun dapat mencatan kematian maternak atau perinatal di tengah jumlah penduduk Indonesia sekitar 215 juta orang. Kemungkinan angka kematian sekitar 330/100.000 persalinan hidup hanya merupakan perkiraan perhitungan contoh di berbagai daerah Indonesia.
Tinggi / rendahnya angka kematian sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat dalam arti makan tinggi pendidikan dan pendapatan akan cenderung untuk makin menerima KB. NKKBS makin tercapai, artinya keluarga cendering ingin mempunyai jumlah anak yang kecil. Jumlah pertumbuhan penduduk dapat diperhitungkan dan dikendalikan. Gugur-kandung hanya merupakan suplemen dalam gerakan keluarga berencana. Pertimbangan keluarga yang cenderung ingin mempunyai anak sedikit adalah agar dapat mempertahankan kesejahteraannya dalam arti poleksosbudhankam keluarga.
Keluarga adalah unit terkecil kehidupan bangsa, negara dan bahkan manusia di atas dunia, sehingga bila keluarga sudah sejahtera dengan sendirinya masalah poleksosbudhankamnas (politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan dan keamanan nasional) akan makin terjamin. Dengan demikian bidan merupakan figur poleksosbudhankamnas di tengah masyarakat dan ikut serta menjamin keutuhan bangsa.
2.6.6 Meningkatkan Sistem Rujukan
Kelambatan sistem rujukan merupakan salah satu kendala tingginya AKI dan AKP. Dengan mempercepat keputusan rujukan dapat mengurangi AKI dan AKP karena diterima di pusat pertolongan dalam keadaan adekuat. Peningkatan sistem rujukan yang tepat merupakan kendala kerena keadaan geografis Indonesia sangat luas dan berpulau. Pemerintah harus siap membantu sistem rujukan karena memerlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
2.6.7 Mendekatkan Pelayanan di Tengah Masyarakat
Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dapat diberikan dengan mempersiapkan bidan di desa. Bidan di sini sebagai pengganti dukun beranak. Bidan dapat melakukan pertolongan persalinan lege artis dengan polindes, mempercepat proses rujukan kehamilan berisiko tinggi, melaksanakan posyandu setiap bulan, memberi KIE-motivasi (gerakan KB, gizi sehat, imunisasi ibu / bay-anak.
Setiap kecamatan telah memiliki Puskesmas sebagai realisasi mendekatkan pelayanan medis modern di tengah masyarakat. Puskesmas ini memberi pelayanan POED dan PONED (memberikan oksitosin, plasenta manual, mempersiapkan asfiksia). Selain itu puskesmas membantu pelaksanaan “posyandu” di desa terdekat, melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah, memberi pendidikan dan kerja sama dengan “dukun”, mengoordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit kabupaten secara medis dan ilmu pengetahuan mampu berperan optimal. Kegiatannya membina Puskesmas di tingkat kabupaten, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi dengan empat spesialis pokok (spesialis bedah, spesialis anak, spesialis penyakit dalam, spesialis obstetri dan ginekologi) yang meliputi POED dan PONED, dapat melakukan bedah seksio sesarea darurat atau berencana dan histerektomo, memberi obat intravenus. Kasus risiko tinggi ditujuk ke rumah sakit provinsi serta menerima kembali perawatan lanjut. Rumah sakit kabupaten juga melakukan koordinasi audit AKI dan AKP.
Rumah sakit provinsi secara medis dan ilmu pengetahuan sebagai top rujukan provinsi yang membina rumah sakit kabupaten, mampu melakukan semua tindakan medis spesialis, mengoordinasi audit AKI dan AKP, melaksanakan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Rumah Sakit Sayang Bayi. Rumah sakit ini merupakan top rujukan di tingkat provinsi dan tangan kanan koordinasi pelayanan kesehatan melalui kewilayahan kesehatan tingkat provinsi.
Upaya bidan meningkatkan penerimaan Gerakan Keluarga Berencana dalam arti merencanakan jumlah anggota keluarga yang dianggap mampu untuk ditanggung oleh kemampuan sosial ekonomi keluarga, dapat meningkat sumber daya manusia setidaknya dalam bidang pendidikan. Penerimaan keluarga berencana dalam arti Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) diharapkan dapat menurunkan jumlah ibu hamil, atau jika hamil dalam kondisi kesehatan jasmani dan rohani optimal sehingga menurunkan jumlah kematian maternal dan perinatal.
Bidan di tengah masyarakat sangat menentukan upaya untuk memberikan pelayanan bermutu dan menyeluruh yang pada saatnya mengganti peranan “dukun” dalam memberi pertolongan persalinan yang aman dan bersih.
Kunci keberhasilan Indonesia dalam upaya menurunkan angka kematian maternal dan perinatal terletak pada peran bidan di daerah pedesanaan, sebagai narasumber tenaga kesehatan terdepan dalam arti luas sehingga bidan sangat penting diberi pendidikan IpTekDok yang berkelanjutan, sehingga profesionalisme makin dapat ditingkatkan.
Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh bidan dalam ikut serta menurunkan angka kematian maternal dan perinatal yang merupakan fenomena puncak gunung es, karena tidak ada seorang pun dapat mencatan kematian maternak atau perinatal di tengah jumlah penduduk Indonesia sekitar 215 juta orang. Kemungkinan angka kematian sekitar 330/100.000 persalinan hidup hanya merupakan perkiraan perhitungan contoh di berbagai daerah Indonesia.
Tinggi / rendahnya angka kematian sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat dalam arti makan tinggi pendidikan dan pendapatan akan cenderung untuk makin menerima KB. NKKBS makin tercapai, artinya keluarga cendering ingin mempunyai jumlah anak yang kecil. Jumlah pertumbuhan penduduk dapat diperhitungkan dan dikendalikan. Gugur-kandung hanya merupakan suplemen dalam gerakan keluarga berencana. Pertimbangan keluarga yang cenderung ingin mempunyai anak sedikit adalah agar dapat mempertahankan kesejahteraannya dalam arti poleksosbudhankam keluarga.
Keluarga adalah unit terkecil kehidupan bangsa, negara dan bahkan manusia di atas dunia, sehingga bila keluarga sudah sejahtera dengan sendirinya masalah poleksosbudhankamnas (politik, ekonomi, sosial, budaya,ketahanan dan keamanan nasional) akan makin terjamin. Dengan demikian bidan merupakan figur poleksosbudhankamnas di tengah masyarakat dan ikut serta menjamin keutuhan bangsa.

2.7 Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI

2.7.1 Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, melalui
2.7.1.1 Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa
penyediaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan
desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu
dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai
pelatihan bagi petugas.
2.7.1.2 Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai
standar, antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED
(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK
(Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kualitas) 24 jam.
2.7.1.3 Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan
komplikasi keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah
terjadinya 4 terlalu, pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria.
2.7.1.4 Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan
jalan menjalin kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI,
IDAI, IBI, PPNI), Perinasia, PMI, LSM dan berbagai swasta.
2.7.1.5 Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara
lain dalam bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya,
pencegahan terlambat 1 dan 2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan
keluarga dan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi, partisipasi dalam jaga mutu pelayanan.
2.7.2 Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan mengevaluasi kegiatan (P1 – P2 – P3) sesuai kondisi daerah.
2.7.3 Sosialisasi dan advokasi, melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada kepentingan ibu dan anak.

2.8 Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mencegah Kematian Bayi
2.8.1 Peningkatan kegiatan imunisasi pada bayi.
2.8.2 Peningkatan ASI eksklusif, status gizi, deteksi dini dan pemantauan tumbuh kembang.
2.8.3 Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi.
2.8.4 Program Manajemen Tumbuh kembang Balita sakit dan Manajemen Tumbuh kembang Balita Muda.
2.8.5 Pertolongan persalinan dan penatalaksanaan Bayi Baru lahir dengan tepat.
2.8.6 Diharapkan keluarga memiliki pengetahuan, pemahaman, dan perawatan pasca persalinan sesuai standar kesehatan.
2.8.7 Program Asuh.
2.8.8 Keberadaan Bidan Desa.
2.8.9 Perawatan neonatal dasar meliputi perawatan tali pusat, pencegahan hipotermi dengan metode kanguru, menyusui dini, usaha bernafas spontan, pencegahan infeksi, penanganan neonatal sakit, audit kematian neonatal.

2.9 Partisipasi Bidan Dalam Mencegah Kematian
2.9.1 Menerapkan program ASUH (Awal Sehat Untuk Hidup Sehat) yang memfokuskan kegiatan pada keselamatan dan kesehatan bayi baru lahir (1-7 hari).
2.9.2 Mengintensifkan kegiatan kunjungan rumah 7 hari pertama pasca persalinan berisi pelayanan dan konseling perawatan bayi dan ibu nifas yang bermutu.

2.10 Partisipasi masyarakat dalam mencegah kematian bayi
2.10.1 Menyebarluaskan pengetahuan tentang pentingnya 7 hari pertama pasca persalinan bagi kehidupan bayi selanjutnya.
2.10.2 Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kunjungan rumah 7 hari pertama pasca persalinan oleh Bidan di Desa.
2.10.3 Mencatat dan melaporkan adanya ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi meninggal pada bidan di Desa, agar diperoleh masukan untuk merencanakan tindakan/ kunjungan dan memecahkan sekaligus mengantisipasi masalah kematian bayi.
2.10.4 Mendukung dan mempertahankan keberadaan bidan di desa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: